Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) 2026 Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga tidak hanya membekali peserta dengan kemampuan analisis organisasi, tetapi juga keterampilan menyusun gagasan menjadi program kerja yang terstruktur. Melalui materi Perumusan dan Penjabaran Gagasan Awal, Muhammad Browijoyo Santanumurti, S.Pi., M.Sc., Ph.D. mengajak peserta memahami bagaimana sebuah ide dapat dikembangkan menjadi konsep kegiatan yang realistis dan dapat diimplementasikan.
Materi yang disampaikan pada hari pertama LKMM-TD tersebut menekankan bahwa setiap program organisasi berawal dari sebuah gagasan. Namun, sebuah ide tidak akan memberikan dampak apabila hanya berhenti sebagai wacana tanpa perencanaan yang jelas. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk merumuskan dan menjabarkan gagasan secara sistematis agar dapat diwujudkan menjadi program kerja yang bermanfaat.
Dalam pemaparannya, Browijoyo menjelaskan bahwa gagasan awal merupakan ide dasar yang lahir dari adanya masalah, peluang, atau kebutuhan yang ditemukan di lingkungan sekitar. Gagasan tersebut menjadi benih dari suatu program kerja yang nantinya dikembangkan menjadi kegiatan yang lebih terstruktur. Menurutnya, ide yang baik bukan hanya menarik untuk dibicarakan, tetapi juga harus dapat dijabarkan secara jelas dan memungkinkan untuk dieksekusi.
Lebih lanjut, peserta diajak memahami pentingnya proses perumusan gagasan dalam organisasi kemahasiswaan. Perumusan gagasan yang baik dapat mencegah munculnya ide-ide yang berhenti pada tahap diskusi tanpa realisasi. Selain itu, proses ini membantu memastikan bahwa program yang dirancang tetap selaras dengan tujuan organisasi serta mempermudah penyusunan proposal maupun perencanaan kegiatan secara keseluruhan.
Materi ini juga membahas berbagai sumber yang dapat melahirkan gagasan awal. Ide kegiatan dapat berasal dari kebutuhan anggota organisasi, permasalahan yang perlu diselesaikan, peluang kerja sama yang tersedia, pengembangan kegiatan rutin, maupun tren dan isu terkini yang relevan. Dengan memahami berbagai sumber tersebut, mahasiswa didorong untuk lebih peka terhadap kondisi di sekitarnya sehingga mampu menghasilkan program yang sesuai dengan kebutuhan sasaran.
Dalam proses perumusannya, Browijoyo menjelaskan bahwa sebuah gagasan tidak muncul secara instan. Ide perlu melalui beberapa tahapan mulai dari observasi terhadap situasi dan kebutuhan, identifikasi masalah atau peluang, pengumpulan informasi dan referensi, hingga perumusan ide inti serta penentuan tujuan yang ingin dicapai. Tahapan tersebut membantu organisasi menghasilkan program yang memiliki dasar yang kuat dan arah yang jelas.
Untuk mengembangkan gagasan menjadi konsep kegiatan yang matang, peserta diperkenalkan dengan beberapa teknik yang dapat digunakan dalam organisasi. Teknik tersebut meliputi brainstorming untuk menghimpun berbagai ide secara terbuka, mind mapping untuk memetakan hubungan antaride, analisis SWOT untuk melihat kondisi internal dan eksternal, serta pendekatan 5W+1H yang membantu menyusun kerangka kegiatan secara sistematis. Melalui metode tersebut, mahasiswa dapat mengidentifikasi apa yang akan dilakukan, mengapa kegiatan tersebut penting, siapa sasarannya, di mana dan kapan kegiatan dilaksanakan, serta bagaimana mekanisme pelaksanaannya.
Sebagai bentuk implementasi materi, peserta diberikan contoh pengembangan gagasan kegiatan bertajuk Fisheries Workshop Series: Merawat Kesehatan Mental dengan Aquascape. Melalui contoh tersebut, peserta mempelajari bagaimana sebuah isu yang berkembang di masyarakat dapat diolah menjadi kegiatan yang memiliki latar belakang yang kuat, tujuan yang jelas, manfaat yang terukur, serta mekanisme pelaksanaan yang realistis. Pendekatan ini menunjukkan bahwa program kerja yang baik harus disusun berdasarkan kebutuhan dan didukung oleh data yang relevan.
Selain pemaparan konsep, peserta juga mengikuti sesi latihan yang mengajak mereka menyusun gagasan awal untuk kegiatan studi ekskursi di bidang perikanan dan kelautan. Melalui latihan tersebut, mahasiswa berkesempatan menerapkan langsung pendekatan 5W+1H dalam merancang sebuah kegiatan, mulai dari menentukan tujuan hingga menyusun gambaran umum pelaksanaannya. Aktivitas ini sekaligus melatih kemampuan berpikir kreatif dan sistematis dalam menyusun program organisasi.
Pada akhir sesi, Browijoyo menekankan pentingnya penggunaan data dalam memperkuat latar belakang suatu kegiatan. Ia juga mengingatkan peserta untuk menghindari gagasan yang terlalu luas atau abstrak serta menyiapkan alternatif apabila ide utama menghadapi kendala dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, program yang dirancang akan lebih mudah diwujudkan dan memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar.
Melalui materi Perumusan dan Penjabaran Gagasan Awal, peserta LKMM-TD 2026 memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan suatu program tidak hanya ditentukan oleh kreativitas ide, tetapi juga oleh kemampuan dalam merencanakan dan mengembangkan gagasan secara sistematis. Keterampilan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menciptakan program kerja yang inovatif, relevan, dan memberikan dampak positif bagi organisasi maupun lingkungan sekitarnya.
Materi ini sejalan dengan komitmen Universitas Airlangga dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan perencanaan mahasiswa. Selain itu, kemampuan merumuskan program yang berbasis kebutuhan dan kolaborasi juga mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pengembangan kegiatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan bersama.
Penulis: Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor: TPA



