Surabaya – Permasalahan sampah laut masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Indonesia. Kondisi tersebut terlihat secara nyata dalam kegiatan Beach Clean Up World Ocean Day 2026 yang dilaksanakan di kawasan Pantai Kenjeran, Surabaya, pada Jumat (6/6/2026). Melalui aksi kolaboratif yang melibatkan lebih dari 130 relawan dan berbagai pemangku kepentingan, kegiatan ini berhasil mengumpulkan total 584,72 kilogram sampah dari kawasan pesisir yang terdampak aktivitas permukiman dan aliran limbah dari daratan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan World Ocean Day 2026 yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia, Marine Buddies Surabaya, dan Aliansi Tunas Biru. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) turut berpartisipasi melalui pengiriman delegasi mahasiswa sebagai bentuk komitmen dalam mendukung upaya konservasi laut dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan wilayah pesisir.
Pantai Kenjeran dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena merupakan salah satu kawasan pesisir yang menerima tekanan cukup besar akibat aktivitas manusia. Kedekatan wilayah permukiman dengan garis pantai menyebabkan berbagai jenis sampah domestik terbawa aliran air dan bermuara di kawasan pesisir sebelum akhirnya masuk ke laut lepas. Kondisi tersebut menjadikan wilayah ini sebagai salah satu titik penting untuk pelaksanaan aksi bersih pantai sekaligus edukasi lingkungan.
Kegiatan beach clean up melibatkan berbagai elemen, mulai dari komunitas lingkungan, mahasiswa, akademisi, hingga instansi pemerintah. Beberapa lembaga yang turut berpartisipasi antara lain Balai Perikanan dan Kelautan Denpasar, PSDKP Surabaya, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, serta Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Serang. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah laut merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan kolaborasi lintas sektor.
Hasil pengumpulan sampah menunjukkan fakta yang cukup memprihatinkan. Dari total 584,72 kilogram sampah yang berhasil dikumpulkan, jenis sampah yang paling dominan adalah sampah plastik dengan persentase mencapai 39,95 persen. Selain plastik, ditemukan pula berbagai jenis sampah rumah tangga lainnya, baik organik maupun anorganik. Dominasi sampah plastik menjadi perhatian serius karena material ini membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami di lingkungan.
Keberadaan sampah plastik di wilayah pesisir tidak hanya mengganggu estetika lingkungan, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekosistem laut. Sampah plastik berpotensi mencederai biota laut, mencemari rantai makanan, hingga menghasilkan mikroplastik yang pada akhirnya dapat berdampak pada kesehatan manusia. Oleh karena itu, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan pengelolaan sampah yang lebih baik menjadi langkah penting yang perlu dilakukan secara bersama-sama.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aksi pengumpulan sampah. Para peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan laut, dampak pencemaran plastik terhadap lingkungan, serta berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi produksi sampah dari sumbernya. Pendekatan edukatif tersebut menjadi bagian penting dalam membangun perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Partisipasi FPK UNAIR dalam kegiatan ini mencerminkan implementasi nyata tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat dan pelestarian lingkungan. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai isu pencemaran laut di ruang kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya penanganannya di lapangan.
Kegiatan Beach Clean Up World Ocean Day 2026 mendukung pencapaian SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui peningkatan kesadaran terhadap pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, SDG 13 (Climate Action) melalui upaya mitigasi dampak lingkungan akibat pencemaran, SDG 14 (Life Below Water) melalui perlindungan ekosistem laut dari ancaman sampah plastik, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi berbagai institusi dalam mewujudkan lingkungan pesisir yang lebih sehat.
Melalui aksi ini, para peserta berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan laut dapat terus meningkat. Laut yang sehat tidak hanya menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi fondasi bagi keberlanjutan ekonomi, pangan, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia di masa depan.
Baca kelanjutannya pada Part 3: Menanamkan Cinta Laut Sejak Dini, Saat Siswa SDN 132 Romokalisari Turut Menjadi Relawan World Ocean Day 2026.
Penulis : Farrel Bhanu Mahardhika
Penyunting : TPA




