Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

PRISMA 2.0 Bahas Akuakultur 4.0 Bersama Prof. Taufiq Mukti

Bagikan

Surabaya – PRISMA 2.0 Akuakultur 4.0 menjadi tema utama dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Forum Pengembangan Riset dan Sains Mahasiswa Akuatik (PRISMA) Departemen Research and Development (R&D) Kajian Keilmiahan Mahasiswa (KAKEMA) Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga pada Jumat (19/6/2026). Bertempat di Ruang B.304 FPK UNAIR, kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Akhmad Taufiq Mukti, S.Pi., M.Si. sebagai narasumber utama untuk membahas perkembangan lingkungan, sistem, dan teknologi dalam akuakultur modern.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 24 mahasiswa yang didominasi oleh mahasiswa FPK semester 2 dan semester 6. Melalui PRISMA 2.0, peserta diajak untuk memahami berbagai tantangan yang dihadapi sektor akuakultur sekaligus menggali peluang pengembangan riset dan inovasi yang dapat diterapkan dalam budidaya perikanan berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Prof. Taufiq menjelaskan bahwa sektor akuakultur saat ini menghadapi berbagai permasalahan, mulai dari pertumbuhan organisme yang kurang optimal, tingginya feed conversion ratio (FCR), serangan penyakit, hingga perubahan kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi produktivitas budidaya. Menurutnya, berbagai tantangan tersebut memerlukan penerapan sistem budidaya yang lebih efektif, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Lebih lanjut, Prof. Taufiq memaparkan konsep Akuakultur 4.0 yang mengintegrasikan teknologi digital dalam sistem budidaya perairan. Teknologi seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), big data, serta sistem otomatisasi dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

“Penggunaan teknologi cerdas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga resiliensi pangan dan kelestarian ekosistem perairan. Oleh karena itu, generasi muda perlu mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat,” jelas Prof. Taufiq.

Selain membahas perkembangan teknologi, Prof. Taufiq juga mendorong mahasiswa untuk aktif mengembangkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan industri akuakultur saat ini. Ia mencontohkan beberapa topik yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, seperti sistem monitoring kualitas air berbasis IoT, pengembangan biofilter lokal pada sistem Recirculating Aquaculture System (RAS), hingga inovasi teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan budidaya.

“Tujuan penelitian bukan mencari topik yang sepenuhnya baru, tetapi menemukan sudut pandang baru dari masalah yang belum selesai. Di situlah letak kontribusi seorang peneliti dalam menghasilkan inovasi yang bermanfaat,” ungkapnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi interaktif yang terbangun memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan serta pandangan mereka mengenai tantangan dan peluang pengembangan akuakultur di masa depan.

Ketua KAKEMA menyampaikan bahwa PRISMA 2.0 dirancang sebagai wadah pengembangan wawasan ilmiah bagi mahasiswa yang memiliki minat dalam bidang riset dan teknologi akuatik.

“Melalui PRISMA 2.0, kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami perkembangan teknologi akuakultur, tetapi juga terdorong untuk menghasilkan gagasan dan penelitian yang mampu menjawab tantangan sektor perikanan di masa mendatang,”Ujar Aditya.

Melalui penyelenggaraan PRISMA 2.0, KAKEMA kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan kapasitas akademik mahasiswa sekaligus memperkuat budaya riset di lingkungan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam menghadirkan inovasi yang mendukung kemajuan sektor akuakultur Indonesia

Sejalan dengan tujuan tersebut, PRISMA 2.0 turut mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 (Quality Education) melalui penyediaan ruang pembelajaran yang memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akuakultur. Pembahasan mengenai sistem budidaya berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan perairan juga mencerminkan kontribusi terhadap SDG 14 (Life Below Water) dan SDG 13 (Climate Action). Selain itu, interaksi antara mahasiswa dan akademisi dalam forum ilmiah ini menjadi wujud kolaborasi yang sejalan dengan semangat SDG 17 (Partnerships for the Goals) dalam mendorong pengembangan riset dan inovasi yang berkelanjutan.

Penulis : Zulfatul Khoiriyah

Penyunting ; FBM

Rated 5 out of 5