Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga mengadakan kunjungan kerja di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3), di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kegiatan semacam ini merupakan kegiatan rutin tiap tahunnya yang dilakukan oleh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan FPK. Kegiatan yang diikuti oleh 42 peserta ini bertujuan untuk berbagi informasi dan pengalaman di bidang budidaya air payau khususnya serta di lingkup perikanan dan kelautan pada umumnya. Kegiatan kunjungan kerja FPK ini diterima dengan hangat oleh pihak balai bahkan disambut langsung oleh ketua Balai yaitu bapak Akhmad Mustofa. Kegiatan tersebut dibuka pukul 10.00 WITA oleh bapak Akhmad Mustofa selaku Kepala BRPBAP3 di hall pertemuan milik BRPBAP3. Kemudian kegiatan dilanjutkan pemaparan maksud dan tujuan kedatangan rombongan FPK oleh Bapak Agustono. Dalam kesempatan tersebut, bapak Agustono menyampaikan rasa terima kasih karena telah diperkenankan melaksanakan kunjungan kerja di BRPBAP3 Maros dan mengungkapkan tujuan kegiatan ini adalah pengayaan wawasan bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan FPK UNAIR untuk dapat menggali informasi sebanyak mungkin terutama di budidaya air payau. Kegiatan tersebut dilanjutkan langsung dengan pemaparan materi dari bapak Akhmad Mustofa dimana Ia menyampaikan bahwa BRPBAP3 merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Kelautan dan Perikanan di bidang riset perikanan budidaya air payau dan penyuluhan perikanan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala badan yang menangani riset kelautan dan perikanan serta pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanan. BRPBAP3 mempunyai tugas untuk melaksanakan kegiatan riset perikanan budidaya air payau dan penyuluhan perikanan. BRPBAP3 sendiri telah berdiri pada tahun 1969 yang pada mulanya hanya merupakan cabang penelitian perikanan dasar di Makassar kemudian mengalami perubahan nama hingga di tahun 2016 berubah menjadi Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) dan berganti nama kembali menjadi Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) di Tahun 2017.

Gambar 1. Perwakilan FPK dengan Kepala BRPBAP3 Akhmad Mustofa
BRPBAP3 memiliki tiga instalasi yang tersebar di Sulawesi Selatan, diantaranya adalah Instalasi Pembeihan Udang Windu dan Pembenihan Kepiting Bakau di Kabupaten Barru, Instalasi Tambak Percobaan Takalar, dan Instalasi Tambak Percobaan Maros. BRPBAP3 telah mengantongi beberapa sertifikat akreditasi dimana lima laboratoriumnya yaitu tanah, air, patologi, nutrisi/ teknologi pakan, dan bioteknologi telah diakreditasi sebagai Laboratorium Penguji SNI ISO/IEC 17025:2008 dengan 23 ruang lingkup. Sementara itu, system manajemen mutu yang diimplementasikan telah terakreditasi SNI ISO 9001:2008 untuk administrasi publik.
Komoditas yang dihasilkan dari BRPBAP3 adalah udang windu, udang vanamei, ikan bandeng, kepiting bakau dan nila. Saat ini, BRPBAP3 sedang mengembangkan probiotik RICA (Research Institute of Coastal Aquaculture). Probiotik RICA adalah Bakteri probiotik yang diproduksi oleh Koperasi Pegawai Republik Indonesia Mina Lestari bekerja sama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau Maros. Bakteri ini dimasukkan ke dalam lingkungan perairan budidaya untuk memperbaiki kualitas air (menurunkan kandungan bahan organik total, amoniak, dan nitrit), serta menghambat perkembangbiakan organisme patogen Vibrio harveyi dan “White Spot Syndrome Virus” (WSSV). Produk probiotik RICA meliputi tiga jenis bakteri, yaitu: RICA-1= (Brevibacillus sp.) RICA-2 = (Serratia sp.) RICA-3 = (Pseudoalteromonas sp.). Selain itu, BRPBAP3 juga mengembangkan Kit Vibrosis yang merupakan alat deteksi dini guna memantau penyakit vibrosis di pembenihan dan tambak pembesara udang Penaeid. Keunggulan dari kit ini adalah tidak perlu isolasi bakteri vibrio dari organ udang yang sakit, waktu deteksi lebih singkat (1-2) hari dibandingkan metode konvensioanl yang membutuhkan 3-7 hari.
Penulis : Dwi Yuli Pujiastuti
Editor : Annur Ahadi Abdillah



