HARI SUNGAI NASIONAL DAN SEKELUMIT CERITA KONDISI SUNGAI DI SURABAYA
Tahukah Anda Tentang Hari Sungai Nasional?
Tidak banyak masyarakat mengetahui peringatan hari Sungai yang ditetapkan pada tangal 27 Juli. Penetapan ini dimulai tahun 2011 sejak Peraturan Pemerintah No38 tentang Sungai ditetapkan. Penetapan ini bukan tanpa sebab, dengan adanya Peraturan Pemerintah tersebut, diharapkan pengelolaan sungai di Indonesia menjadi lebih baik meskipun masih banyak sungai-sungai di Indonesia yang memiliki nasib kurang menguntungkan. Pemanfaatan sungai di kota besar seperti Surabaya, salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat. PDAM jasa tirta melakukan pengolahan air sungai dan mendistribusikan untuk kebutuhan masyarakat. Namun, tampaknya perlu lebih serius dalam mengelolaan sumberdaya sungai yang lintas batas kabupaten dan kota sehingga pengelolaannya harus berkolaborasi secara regional. Hasil penelitian tahun 2013 menyebutkan bahwa kandungan air sungai di Surabaya memiliki nilai kandungan logamTembaga (Cu) yang melebihi batas ambangyaitu 0.37-0.81 ppm (lebih dari 0.02 ppm), sementara konsentrasi logam tembaga pada sedimen sungai ini sangat tinggi yaitu 27.58-77.29 mg/kg (Fitriyah et al., 2013).
Sungai Sebagai Tempat Sampah
Ketika kita tengok, masih banyak masyarakat kita yang dengan mudah membuang sampah kebadan sungai dengan alasan yang sederhana. Sampah-sampah yang dibuang tidak hanya sampah organic dari limbah rumah tangga, saat ini sampah plastic menjadi perhatian karena sulitnya terurai dan menjadi masalah dan penyebab tersumbatnya saluran air dan sungai di sejumlah wilayah. Akhir-akhir ini sejumlah aktivis peduli lingkungan terus mengkampanyekan program untuk penurunan jumalah sampah (plastik), dan menyadari pentingnya biodiversitas biota air bagi kelangsungan hidupmanusia. Laporan Sintesis yang di rilis pada April 2018 menyebutkan bahwa 300 juta ton sampah plastic telah dihasilkan tiaptahunnya di berbagai belahan dunia, dan diperikirakan terus mengalami peningkatan sebesar 250 juta ton jika kondisi yang ada masih terus berlanjut dengan pola urbanisasi, konsumsi dan produksi yang masih sama. Di Indonesia sendiri, 85.000 ton per hari dan akan terus meningkat hingga mencapai 150.000 ton pada prediksi tahun 2025.
Selain sampah plastik, LSM Ecoton menyebutkan bahwa sampah berupa popok bayi menjadi sampah cukup banyak dan cukup merisaukan. Selain kandungan diaper yang sulit untuk terurai, popok yang mengandung fecal (kotoran manusia) juga berpotensi menjadi sumber pencemaran bakteri E.coli yang cukup berbahaya. Cemaran bakteri E.coli di sungai Surabaya pada pengamatan tahun 2007-2011 menyebutkan hingga mencapai kepadatan 50.000 jml/100 ml air sampel yang didapatkan di lokasi sungai Karang Pilang (Priyono et al., 2013). Nilai ini melebihi batas yang ditetapkan PP RI no 82 tahun 2001 yang mentapkan konsentrasi E.coli hanya 5.000 jml/100 ml sampel air.
Sumber Penghidupan dan Penghasilan
Sejumlah masyarakat menggantungkan pendapatan dan penghiduan dari adanya air sungai, seperti penyedia sumber air baku dan penyedia sumber protei ikan. Namun, pernahkah menyangka, sejumlah masyakat juga mendapatkan penghasilan dari mengumpulkan cacing dari dasar perairan sungai. Salah satu sungai besar yang membelah kota Sidoarjo dan Surabaya terletak di Karang Pilang yaitu Sungai Surabaya (kali Mas). Sungai in imemberikan penghasilkan pada pengumpul cacing sutra (cacing rambut) untuk keperluan pakan ikan hias dan kegiatan budidaya ikan lainnya. Sepintas ini memberikan keuntungan, namun indikasi keberadaan cacing rambut ini merupakan indikasi tingginya cemaran bahan organis di sungai tersebut. Cacing mampu memanfaatkan dan mengkonsumsi bahan organic dan terlarut dalam air, semakin banyak populasi cacing megindikasikan semakintinginya cemaran bahan organic (Pursetyo et al., 2019).
Terlepas dari peliknya pemanfaatan sungai, sejumlah peneliti juga mendapatkan isolate bakteri dari kali mas Suabaya yang tahan terhadap paparan Merkuri dan logam Besi. Isolat bakteri Bacillus yang didapatkan tersebut mampu mentoleransi konsentrasi logam besi (FeCl2) pada konsentrasi maksimum 300 mg/L (Farisna and Zulaika, 2016). Isolat ini menunjukkan bakteri tersebut mampu tumbuh pada konsentrasi logam Fe yang tinggi dibandingkan pada konsentrasi logam besi yang rendah. Hal lain dari hasil temuan menarik ini, menunjukkan bahwa sungai di Surabaya juga terpapar oleh pencemaran logam besi yang cukup berbahaya dan menyebabkan bakteri yang hidup di sungai tersebut mampu beradaptasi dan bahkan menjadi resisten pada konsentrasi Fe cukup tinggi.
Refleksi Budaya Bangsa
Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki dan mengelolan sungai dengan lebih baik. Surabaya telah berupay amelakukannya, namun kawasan hulu sungai juga tidak boleh melalaikannya. Kerja bersama atau sikap gotog royong yang menjadi budaya bangsa harus digalakkan kembali untuk mengelola bersama sungai di Indonesia. Perayaan hari sungai nasional akan berasasia-sia jika tidak ada tindakan nyata melakukan perbaikan pengelolaan sugai untuk kebaikan bersama dimasa yang akan datang. Budaya bangsa dapat tercermin dari kualitas sungai yang dimiliki. Semakin maju suatu bangsa semakin menghargai sumberdaya alamnya. Mari bersama dan kita pasti bisa.
Referensi
Farisna, S. T. & Zulaika, E. 2016. Resistensi Bacillus Endogenik Kalimas Surabaya terhadap Logam Besi (Fe). Jurnal Sains dan Seni ITS, 4.
Fitriyah, A. W., Utomo, Y. & Kusumaningrum, I. K. 2013. Analisis Kandungan Tembaga (Cu) dalam Air dan Sedimen di Sungai Surabaya. Skripsi diterbitkan, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang.
Priyono, T. S. C., Yuliani, E. & Sayekti, R. W. 2013. Studi Penentuan Status Mutu Air Di Sungai Surabaya Untuk Keperluan Bahan Baku Air Minum. Jurnal Teknik Pengairan, 4, 53-60.
Pursetyo, K. T., Satyantini, W. H. & Mubarak, A. S. 2019. Pengaruh Pemupukan Ulang Kotoran Ayam Kering Terhadap Populasi Cacing Tubifex tubifex [The Effect Of Remanuring Dry Chicken Manure In Tubifex tubifex Population]. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 3, 177-182.
Penulis
Sapto Andriyono
Departemen Kelautan
sapto.andriyono@fpk.unair.ac.id



