Trenggalek, 9 Juli 2025 — Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan bertajuk “Aplikasi Teknologi Asap Cair dalam Peningkatan Produksi dan Kualitas Ikan Asap”. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Tawing, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada awal Juli 2025, dengan menggandeng Kelompok Usaha Bersama (KUB) Berkah Abadi sebagai mitra utama. Kegitan ini mendukung capaian SDGs ke Ke 1 (No Poverty) dan Ke 14 (Life Below Water). Pada SDGs ke 1 berkontribusi dalam peningkatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk olahan ikan asap, sementara SDGs ke 14 berperan dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan.
Dipimpin oleh Heru Pramono, S.Pi., M.Biotech, Ph.D, kegiatan ini menjadi bagian dari program rutin pengabdian masyarakat FPK UNAIR yang fokus pada pengembangan potensi daerah pesisir. Kegiatan ini juga melibatkan Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T sebagai anggota tim, serta dukungan dari mahasiswa S2 Bioteknologi Perikanan dan Kelautan (Chandra Trisna Pangestu) dan mahasiswa S1 Teknologi Hasil Perikanan (Moch. Haris).
Potensi Perikanan yang Belum Maksimal
Desa Tawing dikenal memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup besar, terutama dari hasil tangkapan laut yang melimpah. Namun, pengolahan hasil perikanan, khususnya ikan asap, masih dilakukan secara sederhana dan dalam skala kecil. Produk ikan asap dari wilayah ini pun umumnya hanya dipasarkan di tingkat Kecamatan, sehingga belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Padahal, dengan teknologi yang tepat dan kemasan yang sesuai standar, produk ikan asap dari Munjungan sangat mungkin bersaing di pasar regional bahkan nasional,” jelas Heru Pramono.
Foto. Perserta pelatihan Kelompok Usaha Bersama Berkah Abadi
Mengenalkan Teknologi Asap Cair
Dalam kegiatan ini, peserta diberikan pelatihan mengenai penggunaan teknologi asap cair sebagai metode pengasapan yang lebih higienis, efisien, dan ramah lingkungan dibandingkan metode tradisional. Teknologi asap cair mampu menghasilkan cita rasa dan aroma asap yang khas, sekaligus mengurangi risiko paparan senyawa berbahaya seperti tar dan benzopiren yang biasanya muncul pada pengasapan langsung menggunakan kayu bakar.
“Teknologi asap cair ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperpanjang daya simpan ikan asap. Ini penting jika ingin memasuki pasar yang lebih jauh dari daerah produksi,” tambah Heru.
Selain materi teknis tentang asap cair, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai teknik pengemasan yang baik, termasuk pemilihan jenis plastik kemasan yang aman untuk makanan. Dr. Eng. Sapto Andriyono menjelaskan berbagai jenis plastik kemasan yang umum digunakan dalam industri makanan dan risiko penggunaan bahan kemasan yang tidak sesuai.
“Kita ingin masyarakat paham bahwa pengemasan juga berperan penting dalam menjaga mutu dan keamanan produk, serta berpengaruh terhadap ketertarikan konsumen,” ujar Sapto.
Antusiasme dan Harapan dari Pelaku Usaha
Pelatihan ini disambut antusias oleh anggota KUB Berkah Abadi yang sebagian besar merupakan pelaku UMKM pengolahan ikan. Mereka mengaku selama ini belum mengenal teknologi asap cair dan belum memahami pentingnya kemasan yang sesuai standar pangan.
“Ilmu seperti ini sangat kami butuhkan. Selama ini kami hanya mengandalkan cara lama, padahal hasilnya kurang tahan lama dan kurang menarik jika dijual,” ujar salah satu anggota kelompok.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan pelaku usaha ikan asap di Desa Tawing dapat meningkatkan produksi secara kualitas maupun kuantitas, serta mampu menjangkau pasar yang lebih luas dengan produk yang lebih aman dan menarik.
Komitmen UNAIR dalam Pemberdayaan Masyarakat
Pengabdian kepada masyarakat ini menjadi wujud nyata komitmen Universitas Airlangga dalam mendukung pemberdayaan masyarakat pesisir dan pengembangan industri perikanan yang berkelanjutan. Lewat kegiatan seperti ini, FPK UNAIR tidak hanya mentransfer teknologi dan pengetahuan, tetapi juga mendorong terbentuknya kemitraan berkelanjutan antara akademisi dan masyarakat.
“Kami akan terus mendampingi kelompok usaha ini, tidak hanya berhenti pada pelatihan, tapi juga evaluasi dan pengembangan lanjutan. Harapannya, produk ikan asap Trenggalek bisa naik kelas dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” tutup Heru.
Dengan kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi dan masyarakat, peningkatan daya saing produk lokal bukan lagi sekadar harapan, melainkan langkah nyata menuju kemandirian ekonomi daerah.




