Surabaya – Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan sektor perikanan berkelanjutan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis. Kali ini, FPK UNAIR berpartisipasi dalam kegiatan “Pelatihan Penanganan Pasca Panen Rumput Laut Bagi Tim WWF Indonesia dan Koperasi Agar Makmur Sentosa” yang diselenggarakan oleh Yayasan WWF Indonesia di Desa Kalialo, Kabupaten Sidoarjo, pada Senin, 10 Maret 2026.
Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari proyek “Advancing Inclusive Blue Economies through Sustainable Aquaculture, Fisheries, and Habitat Protection in Indonesia”, sebuah inisiatif yang bertujuan mendorong transformasi ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Dalam program ini, Kabupaten Sidoarjo ditetapkan sebagai salah satu lokasi intervensi utama, khususnya dalam pengembangan komoditas budidaya rumput laut jenis Gracilaria verrucosa yang memiliki potensi ekonomi penting bagi masyarakat tambak setempat.
FPK UNAIR dalam kegiatan ini diwakili oleh Eka Saputra, S.Pi., M.Si., bersama mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Perikanan angkatan 2022, Fahmi Bayhaqi. Kehadiran akademisi dan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor perikanan, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia akademik, lembaga konservasi, pemerintah daerah, serta komunitas pembudidaya.
Kegiatan Pelatihan untuk Meningkatkan Kualitas Rumput Laut
Pelatihan yang dimulai pada pukul 14.00 WIB ini diawali dengan proses registrasi peserta dan pembukaan kegiatan yang diikuti oleh tim WWF Indonesia, perwakilan instansi pemerintah daerah, penyuluh perikanan, serta anggota Koperasi Agar Makmur Sentosa (AMS) yang berperan dalam mendampingi petambak rumput laut di wilayah Sidoarjo.
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pengantar pelatihan yang menjelaskan pentingnya penerapan praktik penanganan pasca panen yang baik pada komoditas rumput laut. Para peserta juga mengikuti pre-test sebagai langkah awal untuk mengukur pemahaman dasar terkait praktik pasca panen sebelum memasuki sesi teknis.
Sesi utama pelatihan kemudian berfokus pada praktik penanganan pasca panen rumput laut yang baik, meliputi proses pembersihan, pengeringan, penyimpanan, serta upaya pengurangan kontaminan seperti lumpur, pasir, dan kotoran lain yang dapat menurunkan kualitas produk. Dalam sesi ini, peserta tidak hanya menerima pemaparan materi, tetapi juga melakukan praktik langsung untuk memahami standar penanganan yang tepat sesuai kebutuhan industri.
Kegiatan pelatihan juga diikuti dengan sesi diskusi interaktif dan tanya jawab, yang memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman lapangan sekaligus mendiskusikan berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan pasca panen rumput laut. Diskusi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pertukaran pengetahuan antara praktisi, akademisi, dan lembaga pendamping.
Pelatihan ditutup dengan pelaksanaan post-test guna mengevaluasi peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Agenda pelatihan kemudian dilanjutkan dengan persiapan kegiatan buka puasa bersama yang mempererat hubungan antar peserta dan mitra yang terlibat.
Mendukung Ekonomi Biru dan Pembangunan Berkelanjutan
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis budidaya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam membangun sistem perikanan yang berkelanjutan. Melalui peningkatan kualitas pasca panen, rumput laut yang dihasilkan diharapkan memiliki mutu yang lebih baik, sehingga mampu meningkatkan nilai jual serta membuka peluang akses pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.
Upaya tersebut juga sejalan dengan berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) dan SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan kesejahteraan dan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir. Selain itu, praktik budidaya dan pengelolaan yang lebih baik juga mendukung SDG 14 (Life Below Water) dan SDG 13 (Climate Action) melalui pengelolaan sumber daya pesisir yang lebih berkelanjutan.
Kolaborasi antara WWF Indonesia, pemerintah daerah, koperasi, serta perguruan tinggi seperti FPK UNAIR juga mencerminkan implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) dalam memperkuat kemitraan multipihak untuk mendukung pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.
Baca kelanjutannya mengenai tujuan kegiatan, manfaat bagi masyarakat pesisir, serta testimoni peserta pelatihan pada Part 2.



