Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Budidaya Udang Ramah Lingkungan: Modernisasi dengan Sistem Tradisional Plus

Bagikan

Status Budidaya Udang Nasional

   Indonesia merupakan salah satu negara produsen udang terbesar di dunia dengan total produksi sebesar 914ribu ton. Menurut data dari Food and Agriculture Organization (FAO), Capaian ini menjadikan Indonesia menduduki peringkat ke-5 produsen terbesar di dunia pada tahun 2022. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Capaian produksi ini juga terus mengalami peningkatan pada tahun 2023 dengan total produksi sebesar 941 ribu ton dengan provinsi Nusa Tenggara Barat menjadi produsen terbesar dengan nilai produksi mencapai 194 ribu ton. Akan tetapi saat ini produksi udang Indonesia mengalami berbagai tantangan antara lain adanya serangan penyakit yang banyak ditemukan terutama pada model tambak intensif akibat disebabkan oleh penggunaan padat tebar yang tinggi dan minimnya pengelolaan air limbah. Sedangkan pada budidaya semi intensif maupun tradisional, problem yang sering ditemukan berupa penurunan produktifitas dari lahan karena minimnya proses pengolahan tanah serta air. Selain itu adanya peningkatan suhu akibat efek dari pemanasan global serta penurunan kualitas air di daerah pesisir juga berdampak negatif terhadap lingkungan budidaya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu adanya kebijakan baru yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia yang dalam implementasinya melibatkan seluruh komponen antara lain Pemerintah melalui KKP sebagai pemangku kebijakan, industri sebagai pelaku usaha, akademisi sebagai penyalur tekonologi, serta masyarakat selaku konsumen yang berperan sebagai pendukung dari produk yang dihasilkan.

Dengan semakin banyaknya problem yang banyak melanda pada industri udang nasional, Pemerintah Indonesia pada tahun 2016 melalui KKP telah mengeluarkan peraturan nomor 75 berupa pedoman untuk kegiatan pembesaran udang windu (Penaeus monodon) dan udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang di dalamnya berisi tentang pedoman untuk kegiatan pembesaran udang windu dan vaname yang berdasarkan pada konsep keberlanjutan. Adanya peraturan ini menandakan bahwasanya budidaya udang di Indonesia tidak hanya untuk peningkatan produksi namun juga sudah mengarah kepada model budidaya yang ramah lingkungan. Lebih lanjut lagi, dengan semakin gencarnya isu lingkungan serta adanya konsep akuakultur berkelanjutan yang saat ini dipromosikan oleh FAO pada tahun 2023, Pemerintah juga telah membuat proyek percontohan budidaya udang tradisional plus yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tambak serta pendapatan dari petani dengan berdasarkan pada cara budidaya udang yang baik dan benar. Dengan adanya penerapan budidaya udang berbasis ekologi dengan model tradisional plus ini diharapkan bisa menjadi solusi yang menjanjikan bagi industri udang nasional.

Budidaya Udang Model Tradisional Plus

KKP pada bulan April tahun 2024 melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) telah meluncurkan program percontohan budidaya udang tradisional plus yang dilakukan pada tambak tradisional seluas 2 hektar di Balai Riset Perikanan Budi daya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros Sulawesi Selatan. Tujuan dari peluncurun program ini adalah untuk mendukung program revitalisasi tambak yang diharapkan mampu menghidupkan kembali kegiatan budidaya udang secara tradisional di Indonesia. Hal ini penting untuk dilakukan karena berdasarkan dari data statisik yang dikeluarkan oleh KKP pada tahun 2024 dimana luas lahan dari tambak sederhana hampir mencapai 90% dari total lahan yang digunakan untuk budidaya udang di Indonesia (Gambar 1). Hal ini tentunya menjadi sebuah potensi yang harus bisa dimanfaatkan secara maksimal agar dapat membantu mendongkrak produksi udang nasional di masa depan.

Gambar 1. Perbandingan luas lahan daan total produksi udang Indonesia tahun 2019-2023 (Sumber: KKP, 2024)

Tambak tradisional merupakan model budidaya yang sudah lama menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat pantai di Indonesia. Sistem ini pada dasarnya menggunakan siklus alami air laut yang pasang surut tanpa memerlukan teknologi canggih. Namun, hambatan seperti penurunan hasil panen, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan memerlukan pembaruan pada sistem tambak tradisional. Salah satu inovasi yang sedang berkembang adalah konsep tambak tradisional plus, yaitu pengelolaan tambak dengan asas tradisional yang dikombinasikan dengan cara yang lebih berkelanjutan dan efisien. Model tradisional plus merupakan pengembangan dari model budidaya sistem tradisional yang telah disempurnakan dengan praktik ekologis modern dimana dalam kegiatannya tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, namun juga memperhatikan aspek lingkungan, serta sosial. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penerapan budidaya tradsional plus antara lain pemetaan lahan budidaya, aplikasi teknologi, serta akses modal dan pasar.  Pemetaan lahan ini mencakup pemilihan lokasi, desain tata letak, serta konstruksi tambak tradisional plus. Untuk aspek teknologi meliputi persiapan tambak dan air, pemilihan dan penebaran benur, manajemen kualitas air dan pakan, biosekuriti, monitoring kesehatan, panen serta pasca panen. Sedangkan untuk aspek sosial meliputi pemberdayaan masyarakat lokal, kelembagaan kelompok, pelatihan dan pendampingan, serta pengembangan jaringan pemasaran.

A                                                   B

Gambar 2. Komoditas udang windu (a) dan model tambak tradisional (b) di Sidoarjo (Sumber: dok pribadi)

Model tradisional plus merupakan salah satu terobosan pada budidaya udang di Indonesia karena dalam aplikasinya masih berdasarkan pada pola model budidaya udang tradisional yang telah banyak dikuasai oleh mayoritas petani udang Indonesia (Gambar 2). Selain itu kelebihan utama dari tambak tradisional plus adalah berdasarkan pada penerapan prinsip yang berkelanjutan. Dalam sistem ini, tambak tidak sekadar mengandalkan sumber daya alam secara pasif, tetapi juga memanfaatkannya secara optimal tanpa merusak ekosistem di sekitarnya. Meskipun demikian, penerapan tambak tradisional plus tetap menghadapi sejumlah tantangan, antara lain rendahnya kesadaran dan kurangnya edukasi dari pembudidaya dalam memhami konsep ini. Banyak petambak saat ini masih ragu untuk beralih dari sistem lama akibat kurangnya pemahaman tentang keunggulan tambak tradisional plus.

Aplikasi Teknologi pada Model tradisional plus

Pada model budidaya tradisional plus, proses produksinya akan disisipkan teknologi sederhana dan tepat guna yang mengikuti kondisi lahan budidaya seperti adanya persiapan kolam sebelum tebar hingga penanganan pasca panen; penambahan petak tandon sebesar 30% dari total lahan budidaya; penggunaan lahan sebesar 10% dari total lahan budidaya sebagai kolam adaptasi untuk pemeliharaan benur yang dilakukan selama 2-4 minggu; penerapan biosekuriti untuk meminimalisir masuknya penyakit yang berasal dari luar budidaya; serta adanya traceability atau sistem pencatatan yang dilakukan untuk melacak semua kegiatan mulai dari sumber daya yang digunakan, proses produksi di lapang sampai dengan metode pemrosesan udang untuk memastikan kualitas dan keamanan dari produk udang dihasilkan yang sampai ke masyarakat

Gambar 3. Model pendederan pada kolam budidaya (a) dan bak beton (b) (Sumber: Sukenda, 2023)

Aplikasi tambak tradisional plus diharapkan kedepannya bisa menjadi tumpuan produksi udang nasional selain berasal dari sistem tambak intensif dan semi intensif. Dengan mengurangi ketergantungan pada pakan buatan dan bahan kimia, tambak tradisional plus lebih efisien dalam biaya operasional dibandingkan tambak intensif. Walaupun hasil panennya tidak secepat tambak intensif, metode ini lebih konsisten dan menguntungkan dalam jangka panjang. Lebih lanjut, budidaya udang Indonesia di masa depan diharapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi saja, akan tetapi juga memperhatikan kondisi lingkungannya. Hal ini menjadi penting karena lingkungan secara tidak langsung akan mendukung keberhasilan dari usaha budidaya.  Selain itu, adanya kerjasama dan interaksi diantara semua pihak baik dari pemerintah, pelaku industri, pihak akademisi, serta masyarakat yang dilakukan secara berkesinambungan akan dapat menghasilkan suatu ide maupun kebijakan yang nantinya akan mendorong sektor ini tetap berkembang di tengah persaingan pasar global namun juga secara keseluruhan mampu berkonstribusi untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.

 

Referensi:

  1. 2024. The State of World Fisheries and Aquaculture 2024 – Blue Transformation in action. Rome. https://doi.org/10.4060/cd0683en
  2. KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) (2024). KKP Luncurkan Pilot Project Budi Daya Udang Tradisional Plus di Sulawesi Selatan. https://kkp.go.id/news/news-detail/kkp-luncurkan-pilot-project-budi-daya-udang-tradisional-plus-di-sulawesi-selatan.html. (diakses 20 Januari 2025).
  3. KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) (2025). Volume Produksi Perikanan Budidaya Pembesaran per Komoditas Utama (Ton). https://portaldata.kkp.go.id/portals/data-statistik/prod-ikan/tbl-statis/d/53 (diakses 22 januari 2025).
  4. KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) (2025). Data Luas Lahan Budidaya. https://portaldata.kkp.go.id/portals/data-statistik/lahan_budidaya/tbl-statis (diakses 22 januari 2025)
  5. (2023). Prosedur Operasional Budidaya Udang Pola Sederhana (Tradisional) Plus. GOSP (Global Quality and Standards Programme)

Penulis:

  1. Abdul Manan, S.Pi., M.Si., Ph.D.
  2. Muhammad Hanif Azhar, S.Pi., M.Si. Ph.D

Afiliasi:

Departemen Akuakultur-Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Unair Surabaya.

Rated 5 out of 5