ARENG-ARENG: IKAN HITAM YANG SEMAKIN LANGKA
Jika bertanya kepada generasi milenial di Jawa Timur tentang ikan Areng-Areng atau ikan Arengan, mungkin banyak diantara mereka tidak mengetahuinya. Padahal beberapa dekade lalu ikan ini masih cukup familiar di kalangan masyarakat Jawa Timur khusunya di sepanjang sungai Bengawan Solo dan sungai Brantas. Areng-Areng atau bahasa umumnya ikan Hitam Labeo chrysophekadion (Bleeker, 1850) masuk dalam family Cyprinidae (satu family dengan ikan Mas) pernah menjadi ikan yang cukup populer dan ikonik namun saat ini semakin sulit ditemukan.
Ciri-ciri umum Areng-Areng adalah bentuknya mirip ikan Mas tetapi seluruh tubuhnya berwarna hitam dan terdapat bintik-bintik merah di badannya. Yang mencolok adalah sirip punggung terlihat lebih tinggi dari proporsi tubuhnya sehingga ikan ini juga disebut Black Shark, meski sebenarnya tidak ada hubungannya dengan ikan Hiu. Penamaan Black Shark mungkin mengacu pada sirip dorsalnya yang tinggi seperti halnya ikan Hiu.


Menurut Weber dan de Beaufort (1916), Areng-Areng tersebar luas di sepanjang aliran sungai Paparan Sunda. Selain Jawa, ikan ini juga terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Baik di Jawa atau di luar kondisi Areng-Areng juga mengalami kondisi yang sama. Menurunnya jumlah populasi akibat perubahan lingkungan, penangkapan berlebih dan belum ada upaya penangkaran. Peluang bagi masyarkat untuk meneliti dan mengembangkan ikan ini karena ditinjau dari aspek biologinya, Areng-Areng memiliki kemiripan dengan ikan Cyprnid lain seperti Tawes, Bader dan Wader yang terlebih dahulu sudah bisa ditangarkan.
Referensi utama:
Weber M and de Beaufort LF. 1916. The fishes of the Indo-Australian Archipelago.Vol. III Ostariophysi: II Cyprinoidae, Apodes, Syn-branchi. E.J. Brill Ltd. Leiden.
Penulis
Veryl Hasan
Departemen MKI-BP
Email: veryl.hasan@fpk.unair.ac.id


