Budidaya lobster air tawar, seperti jenis Cherax quadricarinatus, telah menjadi industri menjanjikan bagi petani ikan di Indonesia. Lobster ini tidak hanya diminati sebagai udang hias karena keindahan fisiknya, tetapi juga sebagai udang konsumsi yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
Praktek Kerja Lapang (PKL) dilakukan di budidaya koi dan lobster milik Bapak Santoso, Desa Beru, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dari 1 hingga 30 Agustus 2005. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam budidaya lobster air tawar serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode deskriptif dengan mengambil data primer dan sekunder melalui partisipasi aktif, observasi, wawancara, dan studi pustaka. Induk lobster yang digunakan dalam pemijahan memiliki usia lebih dari 6 bulan, dengan panjang tubuh sekitar 20 cm dan berat antara 80-100 gram. Pemijahan dilakukan secara alami dengan menggunakan teknik pemijahan massal, di mana perbandingan jantan dan betina adalah 3:5.
Pakan yang diberikan kepada benih lobster berupa cacing sutra (Tubifex sp.), yang diberikan dua kali sehari. Selama kegiatan pembenihan, belum ada laporan adanya hama atau penyakit yang signifikan, namun masalah yang dihadapi adalah tingginya tingkat kanibalisme pada benih, yang mengakibatkan kematian.
Proses pemasaran dilakukan secara langsung dengan konsumen yang datang langsung ke lokasi budidaya. Untuk mengatasi hambatan tersebut, rekomendasi untuk pengembangan usaha termasuk penambahan lahan dan tenaga kerja tetap guna memenuhi permintaan benih yang tinggi.



