POTENSI KULIT TILAPIA UNTUK MEDIS PENDERITA LUKA BAKAR
The World Health Organization menyebutkan bahwa luka bakar merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang dapat mengakibatkan 180.000 kematian per tahun. Luka bakar tingkat kedua dan ketiga menyakitkan, dan kadang-kadang mematikan tergantung pada seberapa luas luka bakar pada tubuh. Dalam perawatan luka bakar, berbagai obat seperti silver sulfadiazine dan mafenide acetate solution telah digunakan, namun memiliki efek samping seperti pembentukan bekas luka yang jelas dan biaya tinggi. Selain obat, penggunaan kasa pembalut yang harus sering diganti merupakan proses pengobatan yang menyakitkan bagi penderita luka bakar
Pengobatan dan perawatan dengan menggunakan jaringan dapat membantu proses penyembuhan. Para ilmuwan di Federal University of Ceara – Brasil Utara telah menemukan bahwa kulit tilapia memiliki kelembaban, kolagen dan resisten penyakit pada tingkat yang sebanding dengan kulit manusia, dan dapat membantu penyembuhan. Ditemukan kulit tilapia memiliki mikrobiota non-infeksius, jumlah kolagen tipe I yang tinggi, dan struktur morfologis yang mirip dengan kulit manusia, sehingga disarankan sebagai xenograft potensial untuk pengelolaan luka bakar. Kulit ikan tilapia diaplikasikan pada luka bakar ketebalan parsial superfisial di tungkai kanan atas dan luka bakar ketebalan parsial di tungkai kiri atas masing-masing menyebabkan reepitelisasi lengkap dalam waktu 12 dan 17 hari pengobatan dan tidak ada efek samping selama pengobatan.
Seorang pasien bahkan mencatat pengurangan rasa sakit setelah kulit tilapia diaplikasikan, sehingga mengurangi kebutuhan akan obat penghilang rasa sakit. Kulit tilapia dioleskan langsung ke area yang terbakar dan diperban tanpa perlu dioles dengan krim. Setelah sekitar 10 hari, dokter melepas perban. Kulit tilapia tampak telah mengering dan terlepas dari luka bakar pada saat kulit di bawahnya sembuh. Pasien juga tidak perlu minum antibiotik atau obat penghilang rasa sakit ketika menerima pengobatan dengan kulit tilapia.
Kulit tilapia yang telah diolah untuk menghilangkan bau ikan dan disterilkan dapat disimpan selama dua tahun. Kulit tilapia dapat bertahan sampai kulit pasien sendiri telah rusak dalam banyak kasus; dan bahkan dengan luka bakar tingkat kedua atau ketiga yang dalam. Kulit tilapia hanya perlu diganti beberapa kali selama pengobatan (yang dapat berlangsung beberapa minggu), meskipun tidak sesering bila menggunakan kombinasi krim dan kasa.
Produksi ikan nila nasional sebagai salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya Indonesia selama kurun waktu 2015-2018 mengalami peningkatan sebesar 12,85 %. Limbah kulit nila tilapia dari hasil samping industri pengolahan ikan selama ini dimanfaatkan sebagai kulit samak atau bahan pembuatan gelatin karena mengandung kolagen. Adanya potensi kulit nila tilapia sebagai pengobatan penderita luka bakar, maka ada peluang memanfaatkan kulitnya yang merupakan hasil samping perikanan untuk diolah dan diproses bagi keperluan medis.
Referensi
Edmar Maciel Lima-Junior, Manoel Odorico de Moraes Filho, Bruno Almeida Costa, Francisco Vagnaldo Fechine, Maria Elisabete Amaral de Moraes, Francisco Raimundo Silva-Junior, Maria Flaviane Araújo do Nascimento Soares, Marina Becker Sales Rocha, and Cybele Maria Philopimin Leontsinis. 2019. J. Surg Case Rep. 2019 (6).
Penulis
Wahju Tjahjaningsih
Departemen Kelautan
Email: wahju.tjahjaningsih@fpk.unair.ac.id



