Close
Pendaftaran
FPK UNAIR
  • English
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

EFEK PEMBERIAN CHIRONOMUS SP. DAN PELLET PROTEIN TINGGI PADA BENIH GOLDFISH

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

EFEK PEMBERIAN CHIRONOMUS SP. DAN PELLET PROTEIN TINGGI PADA BENIH GOLDFISH

Bagikan

EFEK PEMBERIAN CHIRONOMUS SP. DAN PELLET PROTEIN TINGGI PADA BENIH GOLDFISH

Goldfish (Carassius auratus) merupakan ikan hias yang banyak diminati diseluruh dunia. Goldfish memiliki tubuh yang bersisik dan berbentuk tubuh bulat dengan mulut berukuran kecil serta terletak pada posisi terminal. Goldfish secara umum memiliki sirip dorsal yang relatif panjang. Goldfish juga memiliki warna yang bervariasi mulai dari merah, kuning, hijau, hitam, hingga keperak-perakan. Goldfish memiliki perangkat sirip lengkap antara lain sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anus, dan sirip ekor. Goldfish memiliki bentuk kepala yang berbeda-beda pada masing-masing jenisnya.

Goldfish salah satu ikan introduksi terbaik yang berasal dari Asia timur tepatnya di negara Cina. Habitat dari goldfish berupa danau, rawa-rawa, sungai berarus lambat, dan daerah lainnya dengan vegetasi akuatik di dasar perairan. Goldfish tumbuh secara optimal pada perairan beriklim sedang yaitu pada suhu 18 – 24 oC. Goldfish adalah spesies ikan hias yang memiliki kebiasaan makan omnivora. Makanan alami dari goldfish berupa krustasea planktonik, fitoplankton, larva serangga, telur ikan, vegetasi bentik, dan detritus  Goldfish merupakan ikan golongan cyprinidae dengan pola fertilisasi eksternal yaitu pembuahan terjadi di luar tubuh betina. Goldfish termasuk ikan dengan pola reproduksi ovipar. Goldfish tidak termasuk dalam ikan parental care, yang artinya tidak menjaga telur yang dikeluarkan setelah dipijahkan.

Produksi budidaya goldfish harus ditunjang dengan peningkatan kualitas Induk. Induk terlebih dahulu diseleksi untuk memperoleh kualitas pemijahan yang maksimal. Induk goldfish betina yang telah matang gonad dicirikan dengan bagian abdomen yang menonjol dan padat serta terdapat genital papilla yang menonjol, sedangkan indukan jantan memiliki bentuk tubuh lebih pipih dan genital papilla yang cekung. Goldfish jantan dan betina dapat dibedakan dengan tekstur sirip pektoral dan abdomen, goldfish jantan memiliki sirip pektoral kasar dengan abdomen keras apabila ditekan, sedangkan goldfish betina memiliki sirip pektoral halus dengan abdomen lunak apabila ditekan.

Induk goldfish diberi pakan dengan frekuensi dua kali sehari yaitu pagi dan sore. Pakan yang diberikan pada induk goldfish adalah larvae Chironomus sp. dan pellet dengan ratio 50:50. Pakan diberikan 3% dari total biomassa. Pakan dengan dosis 3% menghasilkan tingkat kecernaan protein yang tinggi hingga 90%. Protein yang tinggi berperan mematangkan gonad pada induk ikan.

Salah satu jenis pakan yang diberikan pada induk goldfish adalah pakan alami. Pakan alami diberikan pada induk untuk memenuhi kebutuhan protein agar cepat mencapai matang gonad. Kandungan pakan dengan protein tinggi di atas 60% dapat mempercepat tingkat kematangan gonad dari ikan. Larva Chironomus sp. memiliki kadar protein tinggi sehingga sesuai untuk kebutuhan pakan induk goldfish. Pakan yang diberikan selain pakan alami adalah pellet. Pakan pellet diberikan pada induk goldfish sebagai pakan sampingan untuk menghemat biaya pengeluaran serta memenuhi kebutuhan nutrisi ikan disamping protein. Selain induk, larva goldfish juga diberi pakan tambahan. Larva goldfish memiliki cadangan kuning telur dan akan habis ketika memasuki umur lima hari. Pemberian pakan alami dilakukan ketika umur goldfish mencapai tiga hari, dengan maksud membiasakan goldfish dengan pakan alami untuk mencegah mortalitas ikan yang disebabkan kehilangan seluruh sumber energinya dari kuning telur. Larva berumur tiga hingga tujuh hari dapat diberikan nauplii artemia. Nauplii artemia memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva sehingga cocok sebagai pakan awal larva serta memberikan pengaruh terhadap kinerja awal enzim tripsin dan amilase pada saluran pencernaan larva. Nauplii artemia juga diketahui memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu mencapai 42%.

Larva berumur tujuh hari dapat mulai diberikan Moina. Moina pada hari ke tujuh diberikan bersamaan dengan nauplii artemia dengan ratio 50 : 50 agar larva dapat beradaptasi dengan makanan barunya. Pemberian Moina dilakukan hingga larva mencapai umur 14 hari. Goldfish berumur 14 hari dapat dikatakan sebagai benih karena telah memiliki organ lengkap yang menyerupai induknya. Benih goldfish berumur di atas 14 hari diberikan pakan pellet dibandingkan dengan Larvae Chironomus sp. Frekuensi pemberian pakan benih goldfish adalah dua kali sehari yaitu pagi dan sore secara ad libitum. Protein tinggi dibutuhkan bagi benih agar dapat tumbuh secara maksimal, karena protein dibutuhkan untuk pembentukan, pertumbuhan dan perkembangan jaringan serta berperan sebagai sumber energi.

Penulis
Luthfiana Aprilianita Sari
Departemen MKI-BP

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/441/1/012015

Sumber
http://news.unair.ac.id/2020/05/03/efek-pemberian-chironomus-sp-dan-pellet-protein-tinggi-pada-benih-goldfish/

5/5