Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menegaskan kiprahnya dalam kancah akademik internasional dengan menyelenggarakan International Conference on Fisheries and Marine yang berkolaborasi dengan International Conference on Biotechnology and Food Sciences. Kegiatan bergengsi ini berlangsung pada 3–4 September 2025 di Harris Convention Hall, Bali. Konferensi yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta dari berbagai institusi, baik sebagai oral presenter maupun poster presenter. Acara ini menjadi wadah strategis bagi akademisi, peneliti, praktisi, serta mahasiswa untuk berbagi pengetahuan, memperluas jaringan kerja sama, dan mendiskusikan perkembangan mutakhir di bidang perikanan, kelautan, bioteknologi, dan ilmu pangan.
Sebagai forum ilmiah berskala global, konferensi ini menghadirkan pembicara utama dari lima negara, yaitu Australia, Jepang, Korea, Malaysia, serta tuan rumah Indonesia. Para pakar internasional tersebut membawakan topik yang relevan dengan tantangan dan peluang sektor perikanan dan kelautan, mulai dari isu keberlanjutan, teknologi bioteknologi mutakhir, inovasi produk pangan berbasis laut, hingga strategi adaptasi perubahan iklim terhadap ekosistem pesisir. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti sesi keynote speech, diskusi panel, serta sesi presentasi. Interaksi aktif terlihat tidak hanya di dalam ruang sidang, tetapi juga dalam forum-forum informal, yang semakin memperkaya pertukaran ide dan pengalaman lintas disiplin.
Kegiatan ini sukses terlaksana berkat kerja sama yang erat antara Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR dengan sejumlah universitas mitra, baik di Bali maupun daerah lain. Di antaranya Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Universitas Dyana Pura, serta Universitas Mahasaraswati dari Bali, juga Universitas Maritim Raja Ali Haji (Bintan). Kerjasama ini sejalan dengan semangat kolaborasi sesuai SDGs no 17 yaitu partnership for the goals. Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR, dalam sambutannya, menegaskan bahwa konferensi ini merupakan bukti nyata komitmen UNAIR dalam mendorong kolaborasi akademik di tingkat internasional. “Kami percaya bahwa kemajuan ilmu pengetahuan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara. Kehadiran para pakar internasional di forum ini menunjukkan bahwa isu-isu kelautan dan perikanan menjadi perhatian global yang harus kita tangani bersama,” ujarnya.
Beberapa isu strategis yang mengemuka dalam forum ini antara lain keberlanjutan perikanan tangkap dan budidaya, pemanfaatan teknologi bioteknologi untuk mendukung produktivitas dan keamanan pangan, serta inovasi dalam pengelolaan sumber daya pesisir. Selain itu, topik tentang mitigasi dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati laut juga menjadi sorotan penting. Melalui berbagai paparan dan diskusi, para peserta memperoleh perspektif baru yang diharapkan dapat menjadi rujukan dalam penelitian, kebijakan, maupun praktik pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan di masing-masing daerah. “Forum ini bukan hanya ajang berbagi hasil riset, tetapi juga kesempatan membangun jejaring yang lebih luas. Harapannya, ke depan akan muncul lebih banyak riset kolaboratif internasional yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan,” tambah salah satu pembicara dari Jepang.
Dipilihnya Bali sebagai lokasi konferensi menambah daya tarik tersendiri. Selain dikenal sebagai destinasi pariwisata dunia, Bali juga memiliki kekayaan budaya serta ekosistem laut yang relevan dengan tema konferensi. Suasana pulau yang hangat dan ramah turut mendukung keberhasilan penyelenggaraan acara ini. Para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk menjalin keakraban di luar forum akademik melalui kegiatan sosial dan kunjungan singkat ke kawasan pesisir. Hal ini semakin memperkuat ikatan emosional dan profesional antar peserta dari berbagai negara.
Dengan berakhirnya International Conference on Fisheries and Marine in conjunction with International Conference on Biotechnology and Food Sciences, Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR berhasil menorehkan catatan penting dalam upaya memperkuat jejaring akademik internasional. Kegiatan ini tidak hanya memberi ruang bagi pertukaran ilmu, tetapi juga menegaskan peran Indonesia—khususnya Universitas Airlangga—sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan di bidang perikanan, kelautan, bioteknologi, dan pangan dan juga sesuai SDGs yaitu tentang kemiskinan (No Poverty SDG No 1), Pangan (No Hunger (SDG No 2) dan kehidupan dibawah laut (Life Below Water SDG No.14). Kesuksesan penyelenggaraan konferensi di Bali ini diharapkan menjadi pijakan kuat untuk kegiatan serupa di masa mendatang, yang lebih besar dan berdampak luas, demi mendukung tercapainya keberlanjutan sumber daya laut dan pangan dunia.





