Surabaya — Dalam upaya memperkuat riset dan inovasi di bidang perikanan berkelanjutan, Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T., peneliti sekaligus dosen dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), tampil sebagai salah satu pembicara pada ajang bergengsi The 11th International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI) 2025. Konferensi yang diselenggarakan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini berlangsung pada 29–30 Oktober 2025 di Hotel Wyndham, Surabaya, dengan mengusung tema besar “Resilient and Sustainable Aquaculture: Advancing Innovation for Food Security and Blue Economy.”
Dalam paparannya yang berjudul “Application of eDNA Metabarcoding to Support Sustainable Aquaculture in Indonesia”, Dr. Sapto menyoroti peran teknologi Environmental DNA (eDNA) sebagai solusi ilmiah dalam mendukung sistem akuakultur yang ramah lingkungan dan efisien. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mendeteksi dan memonitor keberagaman spesies di lingkungan perairan tanpa harus melakukan penangkapan fisik organisme. Dengan demikian, eDNA menjadi alat penting untuk memahami dinamika ekosistem serta mengantisipasi potensi gangguan terhadap keseimbangan hayati perairan budidaya.
Menurut Dr. Sapto, pemanfaatan eDNA dapat membantu petambak dan pengelola perikanan dalam melakukan pengawasan kesehatan lingkungan perairan secara real-time. “Teknologi ini memberikan cara baru yang cepat dan akurat untuk mendeteksi mikroorganisme, ikan, atau spesies invasif yang mungkin mengancam produktivitas akuakultur. Inovasi ini sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara maritim dengan potensi besar di sektor perikanan,” ujarnya.
Lebih jauh, riset ini juga memiliki keterkaitan erat dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) ke-14: Life Below Water. Melalui pendekatan sains berbasis eDNA, kegiatan budidaya ikan dapat dilakukan tanpa merusak ekosistem laut, menjaga biodiversitas, serta mendukung praktik perikanan yang berkelanjutan. “Inovasi berbasis sains seperti eDNA merupakan langkah nyata untuk menjaga kelestarian sumber daya laut sekaligus meningkatkan ketahanan pangan nasional,” tambahnya.
Konferensi ICAI 2025 sendiri menjadi ajang penting bagi para akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pembuat kebijakan untuk berbagi hasil riset dan inovasi terbaru di bidang akuakultur. Kegiatan ini juga menyoroti tantangan global terhadap keamanan pangan dan ekonomi biru (blue economy), yang menekankan pentingnya keseimbangan antara produktivitas dan konservasi sumber daya laut.
Partisipasi aktif Universitas Airlangga, khususnya melalui Fakultas Perikanan dan Kelautan, dalam forum internasional ini menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam mendukung kemajuan sains kelautan dan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. “Kami berharap riset-riset ini tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga bisa diaplikasikan langsung untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan menjaga laut tetap sehat untuk generasi mendatang,” tutup Dr. Sapto.
Melalui keterlibatan dalam ICAI 2025, Universitas Airlangga sekali lagi menunjukkan perannya sebagai pusat unggulan dalam riset perikanan tropis dan konservasi kelautan di Indonesia, sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap misi global dalam menjaga kehidupan di bawah laut dan memperkuat sistem akuakultur yang berkelanjutan.







