FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

Dr. Norhafiz Hanafi Ahmad Shah dari USM Berdiskusi Dengan Nelayan Kejawan Lor

FPK UNAIR dan USM Bahas Kondisi Pesisir Bersama Nelayan Kejawan Lor

3 minutes read
43 Views count

Surabaya, 16 September 2026 – Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) bersama Universiti Sains Malaysia (USM) menggelar pengabdian kepada masyarakat di Rusun Nelayan Kejawan Lor, Surabaya, Rabu (16/9/2026). Kegiatan ini mempertemukan akademisi, pemerintah, aparat terkait, penyuluh, dan masyarakat nelayan. Mereka membahas kondisi perairan pesisir serta kaitannya dengan aktivitas perikanan dan kehidupan masyarakat.

Kegiatan ini melibatkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud), Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal), Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Penyuluh Perikanan Lapangan (PPL), serta masyarakat Nelayan Kejawan Lor. Melalui kolaborasi tersebut, setiap pihak dapat berbagi perspektif tentang kondisi pesisir.

Patroli Air dan Sharing Session Bersama Nelayan

Rangkaian kegiatan diawali dengan patroli air pada pagi hari di kawasan pesisir. Selanjutnya, peserta mengikuti sharing session bertajuk “Memahami Barometer Kondisi Perairan Pesisir bagi Masyarakat Nelayan Pantai Timur.” Wakil Dekan I FPK UNAIR, Dr. Laksmi Sulmartiwi, S.Pi., M.P., turut hadir bersama sejumlah dosen FPK UNAIR.

Dalam sesi tersebut, Dr. Norhafiz Hanafi Ahmad Shah dari USM menjadi pembicara utama. Ia menjelaskan peran karakteristik dan keberadaan ikan sebagai salah satu sumber informasi kondisi perairan pesisir. Selain itu, ia menghubungkan pembahasan tersebut dengan pengalaman nelayan saat menemukan berbagai jenis ikan di sekitar Selat Madura.

Diskusi berlangsung interaktif ketika akademisi berdialog langsung dengan masyarakat Nelayan Kejawan Lor. Para nelayan membagikan pengalaman mengenai jenis ikan yang sering mereka temukan di sekitar Selat Madura, termasuk gulama yang cukup melimpah di wilayah tersebut.

“Nelayan sebenarnya punya pengetahuan yang sangat dekat dengan kondisi perairan. Dari jenis dan ukuran ikan yang mereka temukan, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai kondisi lingkungan di sekitar wilayah tangkap,” ujar Dr. Rokhim.

Gulama sebagai Objek Kajian dan Potensi Ekonomi

Salah satu pembahasan menarik berfokus pada ikan gulama dari famili Sciaenidae atau kelompok croakers. Dr. Norhafiz menjelaskan perjalanan risetnya terhadap kelompok tersebut selama sekitar 12 tahun. Riset tersebut mencakup taksonomi ikan laut dan keragaman ikan di kawasan Asia Tenggara.

Selanjutnya, diskusi berkembang pada kondisi gulama di perairan setempat. Para peserta membahas perbedaan ukuran gulama di Selat Madura dengan beberapa wilayah lain. Mereka juga membicarakan kelimpahan ikan tersebut yang turut berkaitan dengan relatif rendahnya harga di tingkat masyarakat.

Tidak hanya membahas aspek biologis, diskusi juga mengangkat peluang ekonomi gulama. Nelayan dan akademisi bertukar gagasan mengenai pemanfaatan serta pengolahan ikan tersebut. Dengan demikian, gulama yang melimpah dan bernilai jual relatif rendah dapat memiliki peluang untuk menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat pesisir.

Kolaborasi untuk Masyarakat Pesisir Berkelanjutan

Sharing Discussion Bersama Nelayan Kejawan Lor
Sharing Discussion Bersama Nelayan Kejawan Lor

Kegiatan ini menunjukkan pentingnya pertukaran pengetahuan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Akademisi membawa pengetahuan ilmiah tentang biodiversitas dan kondisi perairan. Sementara itu, nelayan membagikan pengalaman langsung mengenai sumber daya ikan di wilayah mereka.

Kolaborasi FPK UNAIR dan USM juga mendukung SDGs 4 (Quality Education) melalui proses berbagi pengetahuan antara akademisi dan masyarakat. Selain itu, pembahasan biodiversitas ikan dan kondisi perairan mendukung SDGs 14 (Life Below Water) dengan meningkatkan pemahaman terhadap sumber daya dan ekosistem laut.

Di sisi lain, keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah, aparat, penyuluh, dan masyarakat nelayan mencerminkan SDGs 17 (Partnerships for The Goals). Kolaborasi tersebut membuka ruang bersama untuk memahami kondisi pesisir sekaligus mengembangkan potensi sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

 

Penulis: Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor: TPA

Rated 5 out of 5