Surabaya, 17 September 2026 – Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) dan Universiti Sains Malaysia (USM) kembali memperkuat kolaborasi. Kali ini, kolaborasi tersebut berlangsung melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Kalisari, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, Kamis (17/9/2026). Kegiatan ini menghadirkan nelayan untuk berbagi pengetahuan tentang perairan pesisir dan sumber daya perikanan. Selain itu, peserta membahas potensi ikan gelama sebagai penanda kondisi lingkungan pesisir.
FPK UNAIR dan USM Berbagi Pengetahuan tentang Perairan Pesisir
Kegiatan ini melibatkan nelayan Kelurahan Kalisari, penyuluh perikanan, dan DKPP. Dalam kegiatan tersebut, Wakil Dekan I FPK UNAIR, Dr. Laksmi Sulmartiwi, S.Pi., M.P., turut hadir bersama sejumlah dosen FPK UNAIR. Sementara itu, USM menghadirkan Dr. Norhafiz Hanafi Ahmad Shah, Ph.D., dari School of Biological Sciences.
Sebelum sharing session, peserta mengamati aktivitas masyarakat nelayan. Salah satunya ialah proses pengasinan ikan. Aktivitas tersebut menunjukkan pemanfaatan hasil tangkapan masyarakat. Selain itu, pengolahan ikan dapat meningkatkan nilai guna produk perikanan.
Gelama sebagai Penanda Kondisi Perairan

Kemudian, sharing session mengangkat topik “Memahami Barometer Kondisi Perairan Pesisir bagi Masyarakat Nelayan Pantai Timur”. Dalam sesi tersebut, Dr. Norhafiz membahas ikan gelama dari famili Sciaenidae atau kelompok croakers. Ia telah meneliti kelompok ikan tersebut selama sekitar 12 tahun.
“Gelama bukan sekadar hasil tangkapan, tetapi juga dapat memberikan informasi tentang kondisi perairan pesisir,” ujar Dr. Norhafiz Hanafi Ahmad Shah, Ph.D.
Menurut Dr. Norhafiz, keberadaan gelama berkaitan dengan kondisi habitat pesisir. Selain suhu, salinitas dan oksigen terlarut turut memengaruhi keberadaannya. Kondisi sedimen dan ketersediaan makanan juga berperan. Sementara itu, musim, pasang surut, dan tekanan penangkapan turut memengaruhi kelimpahan gelama.
Karena itu, masyarakat dapat mengamati jumlah, ukuran, dan jenis gelama hasil tangkapan. Pengamatan tersebut dapat membantu nelayan mengenali perubahan kondisi perairan. Di sisi lain, pengamatan sederhana ini juga dapat melengkapi pengetahuan akademik tentang ekosistem pesisir.
Membahas Pemanfaatan Hasil Tangkapan Nelayan
Selain aspek ekologis, diskusi turut membahas potensi ekonomi ikan gelama. Masyarakat dapat mengolah gelama menjadi ikan asin, surimi, nugget, dan bakso ikan. Dengan demikian, pengolahan tersebut dapat membuka peluang peningkatan nilai ekonomi hasil tangkapan.
Selanjutnya, nelayan berbagi pengalaman mengenai alat tangkap cager. Cager berupa jaring yang dipasang menetap di dasar perairan menggunakan pancang. Alat tersebut memanfaatkan jalur pergerakan biota dan kondisi arus. Dengan cara tersebut, udang yang bergerak mengikuti arus dapat masuk dan tertahan pada jaring. Nelayan Kalisari menggunakan cager dengan batas waktu maksimal dua hari dalam setahun.
Lebih lanjut, pertukaran pengetahuan ini mendukung SDGs 14 (Life Below Water). Melalui kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh pemahaman tentang ekosistem pesisir dan sumber daya perikanan. Pengetahuan itu penting untuk mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.
Selain itu, kolaborasi FPK UNAIR dan USM mendukung SDGs 17 (Partnerships for The Goals). Kegiatan ini mempertemukan akademisi, nelayan, penyuluh perikanan, dan DKPP. Dengan demikian, kemitraan tersebut membuka ruang untuk berbagi pengetahuan tentang pengelolaan sumber daya pesisir.
Pada akhirnya, FPK UNAIR dan USM mendorong sinergi antara pengetahuan akademik dan pengalaman nelayan. Melalui sinergi tersebut, pemahaman mengenai sumber daya pesisir dapat terus diperkuat. Dengan demikian, masyarakat dapat mendukung pemanfaatan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.
Penulis: Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor: TPA




