FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

AMW 2026 : Pemateri ibu Falasifah, S.Si., Direktur/CEO PT Alga Bioteknologi Indonesia (ALBITEC)

Beyond the Blue, FPK UNAIR Ajak Mahasiswa Menyelami Peluang dan Mengolah Masa Depan

5 minutes read
33 Views count

SURABAYA – Laut tidak hanya menyimpan sumber daya. Ekosistem perairan juga menawarkan berbagai peluang inovasi. Potensi tersebut dapat berkembang dalam bidang pangan, nutrisi, kesehatan, industri, hingga teknologi masa depan.

Gagasan itu mengemuka dalam Seminar Nasional Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR). Seminar mengangkat tema “Beyond the Blue: Menyelami Peluang, Mengolah Masa Depan”.

Seminar menghadirkan dua pembicara dari bidang yang berbeda. Mereka adalah Falasifah, S.Si., Direktur/CEO PT Alga Bioteknologi Indonesia (ALBITEC), dan Prof. Dr. Ir. Eko Setyabudi, S.Pi., M.Si., Guru Besar bidang Biologi Perikanan dan Kelautan Universitas Gadjah Mada.

Keduanya membawa perspektif yang saling melengkapi. Falasifah membahas inovasi mikroalga, sedangkan Prof. Eko mengajak mahasiswa memahami kehidupan organisme laut melalui pendekatan biologi.

Spirulina, dari Warisan Aztec hingga Industri Masa Depan

Falasifah mengajak peserta mengenal potensi mikroalga, khususnya spirulina. Masyarakat Suku Aztec telah memanfaatkan spirulina sejak berabad-abad lalu. Kini, spirulina berkembang sebagai komoditas yang memiliki peluang dalam industri pangan, nutrisi, kecantikan, hingga bioteknologi.

Dalam paparannya, Falasifah menjelaskan potensi nutrisi yang terkandung dalam spirulina.

“Satu gram spirulina hampir sama dengan satu kilogram sayur dan buah,” ungkap Falasifah.

Falasifah kemudian menjelaskan berbagai tingkatan produk spirulina. Pengembangannya mencakup feed grade, beauty grade, hingga extraction grade. Ia juga menyebut spirulina sebagai salah satu mikroalga yang telah memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pengembangan tersebut sejalan dengan misi pribadi Falasifah, yakni “to make the best nutrition for every living things.”

Potensi spirulina juga membuka pembahasan mengenai ketahanan pangan. Mikroalga dapat menjadi salah satu sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Pengembangan tersebut juga mendukung SDG 2 (Zero Hunger), terutama melalui diversifikasi sumber pangan dan nutrisi.

Dengan perspektif tersebut, masyarakat dapat melihat sumber daya perairan secara lebih luas. Potensinya tidak hanya berasal dari komoditas perikanan konvensional. Organisme mikroskopis seperti mikroalga juga menawarkan peluang baru.

Dari Rusia hingga Gagasan Spirulina di Luar Angkasa

Pengalaman Falasifah dalam mengembangkan spirulina membawanya pada peluang yang lebih jauh. Saat berkunjung ke Rusia, ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan spirulina dalam konteks pemanfaatan di luar angkasa.

“Ketika saya kunjungan ke Rusia, saya mendapat kesempatan untuk mengembangkan spirulina di luar angkasa,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan luasnya ruang pengembangan mikroalga. Spirulina tidak hanya menawarkan manfaat sebagai produk pangan saat ini. Mikroalga juga dapat menjawab kebutuhan teknologi dan kehidupan pada masa mendatang.

Inovasi tersebut turut membuka pembahasan mengenai SDG 13 (Climate Action). Pengembangan sumber pangan alternatif dapat mendukung pencarian sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Inovasi berbasis mikroalga juga membuka peluang untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.

Di Indonesia, ALBITEC turut mengembangkan Asosiasi Mikroalga Indonesia (ASMI) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). ALBITEC juga memperluas jejaring internasional. Pada 2025, perusahaan tersebut bergabung dengan European Algae Biomass Association.

Jejaring tersebut memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan pengembangan biomassa alga. Kolaborasi ini juga sejalan dengan SDG 17 (Partnerships for the Goals).

Pengembangan inovasi kelautan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Perguruan tinggi, pemerintah, industri, asosiasi, dan jejaring internasional dapat mengambil peran dalam proses tersebut.

Lima Langkah Mahasiswa Mengembangkan Mikroalga

Falasifah juga memberikan lima langkah bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan mikroalga. Langkah pertama ialah menguasai spesies yang dipelajari. Mahasiswa kemudian perlu melatih teknik kultur dan memperluas pengalaman melalui kunjungan atau kursus singkat.

Langkah berikutnya ialah membangun purwarupa. Setelah itu, mahasiswa dapat mempublikasikan hasil dan memperluas jejaring.

“Kuasai spesies yang dipelajari, latih teknik kultur, ikut kunjungan atau kursus singkat, bangun purwarupa, kemudian publikasikan dan perluas jejaring,” pesannya kepada mahasiswa.

Lima langkah tersebut menunjukkan bahwa inovasi membutuhkan proses. Mahasiswa tidak cukup berhenti pada penguasaan teori. Mereka juga perlu mengembangkan keterampilan teknis dan menerapkan gagasan dalam bentuk nyata.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat SDG 4 (Quality Education). Pendidikan perikanan dan kelautan dapat membekali mahasiswa dengan teori sek

ngalaman. Keterampilan teknis, inovasi, publikasi, dan jejaring profesional juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.

Mengenal Anisakis, Memahami Kehidupan di Balik Ikan

AMW 2026 : Pemateri Prof. Dr. Ir. Eko Setyabudi, S.Pi., M.Si., Guru Besar bidang Biologi Perikanan dan Kelautan Universitas Gadjah Mada.
AMW 2026 : Pemateri Prof. Dr. Ir. Eko Setyabudi, S.Pi., M.Si., Guru Besar bidang Biologi Perikanan dan Kelautan Universitas Gadjah Mada.

Sementara itu, Prof. Eko Setyabudi membawa peserta melihat perikanan dari perspektif biologi. Ia membahas Anisakis, cacing parasit yang dapat ditemukan pada ikan laut.

Pembahasan tersebut mengajak mahasiswa melihat ikan dari sudut pandang yang lebih luas. Ikan tidak hanya memiliki nilai sebagai komoditas. Di dalamnya terdapat kompleksitas biologis yang perlu dipahami.

Mahasiswa juga perlu mengenal organisme yang berasosiasi dengan ikan. Pengetahuan tersebut membantu mereka memahami potensi risiko dalam pemanfaatan sumber daya perikanan.

“Ikan tidak hanya dapat dilihat sebagai sumber pangan atau komoditas perikanan. Kita perlu memahami aspek biologinya, termasuk organisme yang berasosiasi dengannya, agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara lebih tepat,” ujarnya.

Kajian mengenai Anisakis menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan dalam pemanfaatan sumber daya perikanan. Pemahaman tentang biologi ikan, organisme parasit, lingkungan, dan interaksi ekosistem dapat mendukung pengelolaan perikanan.

Perspektif tersebut juga berkaitan dengan SDG 14 (Life Below Water). Upaya menjaga keberlanjutan laut tidak hanya membutuhkan pengendalian eksploitasi. Pengetahuan tentang organisme dan ekosistem juga memiliki peran penting.

Melalui seminar tersebut, mahasiswa diajak melihat laut dari perspektif yang lebih luas. Sumber daya laut tidak hanya menawarkan komoditas. Di baliknya terdapat peluang inovasi, kehidupan organisme, dan tantangan yang membutuhkan pendekatan ilmiah.

AMW 2026 : Seminar Nasional “Beyond The Blue: Menyelami Peluang, Mengolah Masa Depan.”
AMW 2026 : Seminar Nasional “Beyond The Blue: Menyelami Peluang, Mengolah Masa Depan.”

Seminar “Beyond the Blue” akhirnya mempertemukan dua cara pandang. Mikroalga menunjukkan peluang inovasi dari sumber daya hayati. Sementara itu, kajian biologi mengingatkan pentingnya memahami kehidupan di balik setiap sumber daya perikanan.

Informasi selengkapnya mengenai kegiatan dan berbagai kabar terbaru Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR dapat diakses melalui website resmi FPK UNAIR.

 

Penulis: Fahmi Bayhaqi A

Editor : TPA

Rated 5 out of 5