FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

JIC 2026 Ungkap Peran Probiotik dalam Mendukung Akuakultur Berkelanjutan

2 minutes read
131 Views count

Rangkaian Join International Class (JIC) 2026 Universitas Airlangga menghadirkan pengalaman pembelajaran lintas negara yang mempertemukan perspektif akademik dari berbagai latar belakang. Pada Rabu, 12 Agustus 2026, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR menjadi salah satu ruang pembelajaran dalam rangkaian kegiatan tersebut melalui materi “Probiotic and Its Application in Aquaculture Industry” yang disampaikan oleh Muhammad Browijoyo Santanumurti, S.Pi., M.Sc.

Dalam pemaparannya, Muhammad Browijoyo menjelaskan posisi strategis Indonesia dalam industri akuakultur global. Berdasarkan data FAO 2024 yang dicantumkan dalam materi, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam produksi akuakultur setelah China dan India, serta peringkat kedua dalam produksi ikan setelah China. Potensi tersebut menunjukkan besarnya kontribusi akuakultur terhadap ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat, yang sejalan dengan SDGs 1 (No Poverty) dan SDGs 2 (Zero Hunger).

JIC 2026 : Pak Browijoyo 2
JIC 2026 : Pak Browijoyo 2

Di sisi lain, perkembangan akuakultur menghadapi berbagai tantangan, salah satunya penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme. Sejumlah bakteri seperti Vibrio, Aeromonas, dan Streptococcus dapat menimbulkan permasalahan dalam kegiatan budidaya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan kesehatan organisme untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan industri akuakultur.

Sebagai salah satu pendekatan, Muhammad Browijoyo memperkenalkan probiotik, yakni mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan bagi inangnya ketika dikonsumsi. Dalam materi, Lactobacillus dan Bacillus diperkenalkan sebagai contoh bakteri yang menguntungkan, berbeda dengan kelompok bakteri yang berpotensi merugikan seperti Vibrio, Streptococcus, dan Aeromonas.

Potensi probiotik dalam akuakultur terlihat dari penelitian pada Litopenaeus vannamei yang menunjukkan performa lebih baik setelah pemberian probiotik selama 56 hari. Muhammad Browijoyo menekankan bahwa pengembangan probiotik masih memerlukan penelitian untuk menemukan bakteri yang sesuai dengan spesies tertentu, terlebih bakteri patogen dapat terus berevolusi sehingga diperlukan pengembangan bakteri menguntungkan secara berkelanjutan. 

Pembahasan mengenai probiotik dalam JIC 2026 memberikan peserta wawasan mengenai pendekatan berbasis mikroorganisme untuk mendukung kesehatan dan produktivitas akuakultur. Penguatan praktik budidaya yang lebih berkelanjutan turut berkaitan dengan SDGs 14 (Life Below Water), sementara pertukaran pengetahuan lintas negara dalam JIC 2026 memperkuat semangat SDGs 17 (Partnerships for The Goals) melalui tema “Connecting Global Minds Through Collaborative Learning”.

 

Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr

Editor : TPA

Rated 5 out of 5