Surabaya – Pemanfaatan ampas tahu sebagai bahan alternatif pakan ikan menjadi inovasi menarik dalam pengembangan akuakultur berkelanjutan. Inovasi tersebut dipaparkan Dr. Herryawan Ryadi Eziwar Dyari, Kepala EKOMAR Universiti Kebangsaan Malaysia, dalam kegiatan International Conference of Marine Sciences (INCOFIMS) 2026 yang diselengarakan oleh Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR).
Okara untuk Mengurangi Ketergantungan Tepung Ikan
Dr. Herryawan memaparkan penelitian mengenai pemanfaatan okara atau ampas tahu yang dihidrolisis secara enzimatis sebagai bahan pengganti tepung ikan (fishmeal). Inovasi tersebut dikembangkan untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya laut sekaligus memanfaatkan hasil samping industri pangan.
“Okara berpotensi menjadi bahan alternatif pakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan,” jelas Dr. Herryawan.
Hasil Uji pada Ikan Nila Merah
Penelitian dilakukan selama 60 hari menggunakan ikan nila merah hibrida (Red Hybrid Tilapia). Hasilnya menunjukkan bahwa substitusi 50% tepung ikan dengan okara terhidrolisis mampu mempertahankan laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan efisiensi pakan (FCR) yang setara dengan pakan berbasis tepung ikan.
Penggunaan okara terhidrolisis juga tidak menunjukkan respons stres sistemik maupun gangguan rasio protein pada ikan. Dari sisi mutu produk, substitusi tersebut mampu meningkatkan retensi kelembapan fillet, sementara pH dan kapasitas ikat air tetap optimal.
Sebaliknya, substitusi hingga 100% menyebabkan penurunan performa pertumbuhan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan okara terhidrolisis sebesar 50% menjadi tingkat substitusi yang paling efisien.
“Substitusi 50% menjadi formulasi yang paling optimal untuk mempertahankan performa ikan sekaligus memanfaatkan limbah pangan,” tambahnya.
Mendorong Akuakultur Sirkular
Inovasi ini mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan produksi pangan akuakultur yang efisien dan SDG 1 (No Poverty) melalui peluang efisiensi biaya pakan. Pengurangan penggunaan tepung ikan juga relevan dengan SDG 13 (Climate Action) dan SDG 14 (Life Below Water) melalui pemanfaatan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Sementara itu, kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antara Universiti Kebangsaan Malaysia dan komunitas akademik melalui INCOFIMS 2026 mencerminkan SDG 17 (Partnerships for the Goals).
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hasil samping industri pangan seperti ampas tahu dapat diolah menjadi bahan pakan bernilai tambah, sekaligus mendukung pengembangan akuakultur yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Penulis : Farrel Bhanu Mahardhika
Penyunting : TPA






