FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

Dua Paten Granted, FPK UNAIR Hadirkan Inovasi dari Sumber Daya Laut

3 minutes read
35 Views count

SurabayaPaten granted FPK UNAIR kembali menambah capaian inovasi Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Dua dosen FPK UNAIR berhasil memperoleh paten granted atas inovasi yang memanfaatkan potensi sumber daya perikanan untuk menghasilkan produk bernilai tambah. Kedua inovasi tersebut dikembangkan oleh Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D., dan Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T.

Capaian tersebut menunjukkan kontribusi dosen FPK UNAIR dalam mengembangkan inovasi berbasis sumber daya perikanan. Kedua paten menghadirkan pendekatan berbeda, mulai dari pemanfaatan Sargassum sp. sebagai sumber yodium alami hingga pengembangan formula selai buah pedada (Sonneratia caseolaris) dengan hidrokoloid karagenan.

Sargassum sp. untuk Garam Beryodium

Prof. Amin mengembangkan inovasi garam beryodium dengan memanfaatkan potensi Sargassum sp. sebagai sumber yodium alami. Selama ini, produsen garam beryodium di pasaran umumnya menggunakan kalium iodat sebagai sumber yodium.

Melalui inovasinya, Prof. Amin melihat peluang pemanfaatan komoditas perikanan sebagai alternatif sumber yodium. Sargassum sp. memiliki kandungan yodium yang dapat mendukung pengembangan garam beryodium berbasis bahan alami.

Inovasi tersebut memperlihatkan bahwa sumber daya laut tidak hanya memiliki nilai sebagai komoditas pangan. Peneliti juga dapat mengolahnya menjadi bahan yang mendukung kebutuhan pangan dan kesehatan masyarakat.

Pemanfaatan Sargassum sp. juga membuka peluang pengembangan produk berbasis sumber daya laut secara lebih optimal. Pendekatan tersebut sejalan dengan SDGs 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan inovasi pangan serta SDGs 14 (Life Below Water) melalui pemanfaatan sumber daya laut secara bernilai dan bertanggung jawab.

Formula Selai Pedada dengan Karagenan

Sementara itu, Dr. Eng. Sapto Andriyono mengembangkan formula selai berbahan buah pedada (Sonneratia caseolaris) dengan penambahan hidrokoloid karagenan.

Inovasi tersebut tidak hanya mengembangkan diversifikasi produk berbahan komoditas pesisir. Sapto juga memanfaatkan karagenan sebagai bahan pengental dalam formulasi selai. Hasil formulasi tersebut menghasilkan karakteristik produk dengan cita rasa yang dapat diterima dan digemari masyarakat.

Pemanfaatan buah pedada membuka peluang diversifikasi produk dari sumber daya pesisir. Pada saat yang sama, penggunaan karagenan menunjukkan peluang pemanfaatan komponen hasil perikanan untuk mendukung pengembangan produk pangan.

Inovasi kedua dosen tersebut memperkuat peran riset FPK UNAIR dalam menghasilkan produk yang memiliki potensi manfaat bagi masyarakat. Pengembangan produk berbasis sumber daya perikanan juga dapat membuka peluang ekonomi baru dan mendukung SDGs 1 (No Poverty) melalui penciptaan nilai tambah pada komoditas.

Dari sisi keberlanjutan, inovasi berbasis sumber daya laut dan pesisir dapat mendorong pemanfaatan bahan secara lebih optimal. Hal tersebut turut mendukung SDGs 13 (Climate Action) melalui pengembangan pendekatan produksi yang lebih berorientasi pada pemanfaatan sumber daya secara efisien.

Capaian paten granted ini juga memperkuat ekosistem inovasi FPK UNAIR dalam menghubungkan riset, teknologi, pangan, dan kebutuhan masyarakat. Pengembangan serta hilirisasi inovasi bersama berbagai pihak dapat memperluas manfaat hasil riset dan mendukung semangat SDGs 17 (Partnerships for the Goals).

Penulis : Farrel Bhanu Mahardhika

Penyunting : Terry Previo Avianto

Rated 5 out of 5