Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga kembali memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran berstandar internasional melalui penyelenggaraan kuliah tamu bertajuk Tropical Coastal Ecosystems: Linking Ecology, Conservation, and Sustainable Development. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Rabu (10/6/2026) tersebut menghadirkan akademisi dari School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia (USM), Dr. Chee Su Yin. Kuliah tamu ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Akuakultur angkatan 2023 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga serta didampingi oleh dosen Program Studi Akuakultur, Lailatul Lutfiyah, S.Pi., M.Si., sebagai pendamping kegiatan.
Kuliah tamu ini menjadi salah satu bentuk implementasi internasionalisasi pembelajaran yang terus dikembangkan FPK UNAIR. Melalui kolaborasi dengan Universiti Sains Malaysia, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mempelajari perkembangan ilmu kelautan secara langsung dari akademisi internasional yang memiliki kepakaran pada ekologi perairan tropis, biodiversitas laut, konservasi ekosistem pesisir, serta pengelolaan sumber daya pesisir berbasis ekosistem (ecosystem-based management). Penelitian Dr. Chee Su Yin banyak berfokus pada dinamika komunitas biota laut, interaksi antara mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, hingga dampak perubahan lingkungan terhadap struktur dan fungsi ekosistem pesisir.
Dalam pemaparannya, Dr. Chee menjelaskan bahwa ekosistem pesisir tropis merupakan salah satu ekosistem paling produktif di dunia. Ekosistem tersebut berperan sebagai habitat bagi beragam organisme laut, melindungi garis pantai dari abrasi, menyimpan karbon dalam jumlah besar, serta menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir. Ia menekankan bahwa mangrove, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem pesisir lainnya merupakan sistem yang saling terhubung sehingga kerusakan pada satu komponen akan memengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
“Healthy coastal ecosystems are interconnected systems. Protecting mangroves, seagrass meadows, and coral reefs means protecting biodiversity, coastal communities, and the ecosystem services that support sustainable development,” jelas Dr. Chee Su Yin.
Selain menjelaskan pentingnya fungsi ekologis ekosistem pesisir, Dr. Chee juga mengulas berbagai tantangan yang saat ini dihadapi wilayah pesisir tropis. Pencemaran, kerusakan habitat, pengasaman laut (ocean acidification), serta perubahan iklim menjadi ancaman utama yang dapat menurunkan kualitas ekosistem. Aktivitas manusia yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan turut mempercepat degradasi habitat sehingga berdampak terhadap keanekaragaman hayati maupun jasa ekosistem yang dimanfaatkan oleh masyarakat.
Salah satu fakta yang menarik perhatian peserta adalah besarnya kontribusi aktivitas di daratan terhadap pencemaran laut. Dr. Chee menjelaskan bahwa sekitar 80 persen sampah yang ditemukan di laut berasal dari daratan dan terbawa menuju wilayah pesisir melalui aliran sungai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga kesehatan ekosistem laut memerlukan kesadaran kolektif masyarakat, dimulai dari pengelolaan sampah dan aktivitas di daratan hingga penguatan kebijakan lingkungan yang berkelanjutan.
Sebagai solusi atas berbagai tantangan tersebut, Dr. Chee memperkenalkan konsep Nature-based Solutions (NbS), yaitu pendekatan yang memanfaatkan fungsi alami ekosistem untuk mengatasi berbagai permasalahan lingkungan. Restorasi mangrove, padang lamun, terumbu karang, rawa pesisir, maupun terumbu tiram menjadi contoh implementasi pendekatan tersebut yang mampu memberikan manfaat ekologis sekaligus sosial-ekonomi. Selain mendukung konservasi keanekaragaman hayati, pendekatan ini juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas air, pengurangan abrasi pantai, penyerapan karbon, penyediaan habitat bagi biota laut, hingga mendukung sektor perikanan dan pariwisata berkelanjutan.
“Nature-based Solutions are not only about restoring ecosystems. They are long-term investments that strengthen climate resilience, improve biodiversity conservation, and provide benefits for society and future generations,” ungkap Dr. Chee Su Yin.
Meskipun demikian, implementasi Nature-based Solutions masih menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya partisipasi masyarakat, keterbatasan pendanaan, kurangnya kapasitas sumber daya manusia, hingga lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Oleh karena itu, Dr. Chee menegaskan bahwa keberhasilan konservasi ekosistem pesisir membutuhkan kolaborasi yang erat antara akademisi, pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan berbagai mitra pembangunan agar pengelolaan lingkungan dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
Kuliah tamu ini bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai keterkaitan antara ekologi, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan dalam pengelolaan ekosistem pesisir tropis. Selain memperluas wawasan akademik, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan minat mahasiswa untuk mengembangkan penelitian dan inovasi di bidang ekologi pesisir, konservasi laut, serta pengelolaan sumber daya perairan berbasis ilmu pengetahuan.
Penyelenggaraan kuliah tamu internasional ini juga menjadi wujud komitmen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui kolaborasi dengan akademisi dunia. Kerja sama dengan Universiti Sains Malaysia memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh perspektif global sekaligus memperluas jejaring akademik internasional. Kegiatan ini sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan pembelajaran berkualitas yang menghadirkan pakar internasional, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan global antara institusi pendidikan tinggi dalam mendukung pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor : TPA



