Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran berstandar internasional melalui penyelenggaraan kuliah tamu bertajuk Freshwater Fish Diversity and Biogeography in Southeast Asia. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Selasa (9/6/2026) tersebut menghadirkan pakar ichthyology dari School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia (USM), Dr. Sébastien Lavoué. Kuliah tamu ini diikuti oleh mahasiswa angkatan 2024 FPK Universitas Airlangga serta dihadiri oleh sejumlah dosen FPK UNAIR, di antaranya Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P., Dwi Yuli Pujiastuti, S.Pi., M.P., dan Lailatul Lutfiyah, S.Pi., M.Si.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya FPK UNAIR dalam memperluas jejaring akademik internasional sekaligus memberikan wawasan global kepada mahasiswa mengenai perkembangan ilmu perikanan. Melalui kolaborasi dengan Universiti Sains Malaysia, mahasiswa memperoleh kesempatan belajar secara langsung dari akademisi yang memiliki rekam jejak penelitian internasional di bidang sistematika, filogenetik, evolusi, dan biogeografi ikan menggunakan pendekatan genetika molekuler serta morfologi.
Dalam pemaparannya, Dr. Sébastien Lavoué memperkenalkan konsep dasar biogeografi sebagai cabang ilmu yang mempelajari persebaran keanekaragaman hayati berdasarkan ruang dan waktu. Menurutnya, persebaran suatu spesies tidak hanya ditentukan oleh kondisi lingkungan saat ini, tetapi juga dipengaruhi oleh sejarah evolusi, dinamika geologi, hingga perubahan iklim yang terjadi selama jutaan tahun. Melalui pendekatan tersebut, para peneliti dapat memahami bagaimana suatu spesies muncul, berevolusi, dan menyebar ke berbagai wilayah.
“Biogeography is not only about where species live today. It is about understanding why they occur in certain places and how geological history, climate change, dispersal, and evolution have shaped their present distribution. Every fish species carries an evolutionary history that helps us understand biodiversity and guides future conservation efforts,” jelas Dr. Sébastien Lavoué.
Lebih lanjut, Dr. Lavoué menjelaskan bahwa persebaran ikan dipengaruhi oleh kombinasi faktor abiotik maupun biotik. Faktor abiotik meliputi suhu air, salinitas, kedalaman, tingkat keasaman (pH), kandungan oksigen, kekeruhan, hingga kecepatan arus. Sementara itu, faktor biotik seperti predasi, kompetisi, dan simbiosis turut menentukan kemampuan suatu spesies bertahan hidup pada habitat tertentu. Pemahaman terhadap berbagai faktor tersebut menjadi dasar penting dalam pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.
Dalam konteks Asia Tenggara, Dr. Lavoué menyoroti kawasan ini sebagai salah satu pusat keanekaragaman ikan air tawar dunia. Indonesia diketahui memiliki lebih dari 5.000 spesies ikan, sedangkan Malaysia memiliki lebih dari 2.000 spesies. Tingginya keragaman tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis tropis, sejarah pembentukan benua, perubahan muka laut, hingga dinamika bentang alam yang membentuk beragam ekosistem perairan. Materi kuliah juga mengulas berbagai habitat akuatik tropis, mulai dari sungai, danau, estuari, hutan mangrove, terumbu karang, hingga laut dalam yang menjadi tempat hidup berbagai spesies ikan dengan karakteristik adaptasi yang berbeda.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian peserta adalah konsep vicariance dan dispersal, dua mekanisme utama yang menjelaskan bagaimana suatu spesies dapat tersebar di berbagai wilayah. Dr. Lavoué menerangkan bahwa perubahan tektonik, pergeseran benua, naik turunnya permukaan laut pada masa Pleistosen, hingga terbentuknya jalur sungai purba di Paparan Sunda memiliki peran penting dalam membentuk pola distribusi ikan air tawar di Asia Tenggara.
Sebagai contoh penerapan konsep tersebut, Dr. Lavoué memaparkan hasil penelitiannya mengenai persebaran arwana Asia (Scleropages formosus), Boraras maculatus, serta kelompok ikan lele famili Clariidae. Melalui pendekatan filogenetik dan biogeografi, penelitian tersebut menunjukkan bahwa distribusi spesies tidak hanya dipengaruhi kondisi lingkungan saat ini, tetapi juga merupakan hasil dari sejarah evolusi dan perubahan geologi yang berlangsung selama jutaan tahun.
“Southeast Asia is one of the world’s biodiversity hotspots for freshwater fishes. Understanding this diversity is essential not only for taxonomy and evolutionary biology, but also for protecting aquatic ecosystems that support millions of people’s livelihoods,” ungkap Dr. Sébastien Lavoué.
Kuliah tamu ini bertujuan memperluas wawasan mahasiswa mengenai konsep biogeografi, evolusi, dan biodiversitas ikan air tawar sekaligus memperkenalkan perkembangan riset internasional di bidang ichthyology. Selain meningkatkan pemahaman konseptual, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong minat mahasiswa untuk mengembangkan penelitian mengenai biodiversitas, konservasi sumber daya perairan, serta pengelolaan perikanan berbasis ilmu pengetahuan.
Melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional ini, FPK Universitas Airlangga terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang kolaboratif dan berdaya saing global. Kolaborasi dengan Universiti Sains Malaysia menjadi wujud nyata penguatan jejaring akademik internasional yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi. Kegiatan ini juga sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan akses pembelajaran berkualitas dari akademisi internasional serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan global di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor : TPA



