Sejak awal mengenal dunia perkuliahan selalu merasa nyaman dengan kehidupan yang sederhana dan tenang. Zona nyaman saya adalah tidak bertemu banyak orang, menjalani hari sebagai seorang introvert yang lebih memilih untuk langsung pulang setelah kuliah daripada berlama-lama di kampus. Sejak awal, saya bahkan sudah berencana untuk tidak terjun ke dunia organisasi, karena saya merasa itu bukan jalur yang sesuai dengan kepribadian saya.
Namun, kehidupan seringkali menghadirkan kejutan yang tak terduga. Saya mencoba untuk mengikuti organisasi BEM pada tahun 2024 dan di tengah tahun tersebut serta rutinitas yang saya anggap sudah aman dan sesuai rencana, datang sebuah tawaran besar menjadi Wakil Presiden BEM Fakultas Perikanan dan Kelautan 2025. Sebuah posisi yang menuntut saya untuk keluar dari zona nyaman, berhadapan dengan banyak orang, memimpin, dan membawa perubahan serta keluar dari apa yang sudah direncanakan sedari awal yaitu ingin kembali ke setelan mahasiswa “kupu-kupu”. Awalnya, keraguan dan rasa takut begitu mendominasi. Saya bertanya-tanya, apakah saya mampu? Apakah saya siap?
Perjalanan batin itu akhirnya membawa saya pada sebuah kesadaran: bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali, dan mungkin inilah momen untuk membuktikan bahwa kenyamanan bukanlah tempat untuk bertumbuh. Saya menerima amanah ini dengan tekad untuk membawa citra Ilmu dan Teknologi Kelautan dan Badan Eksekutif Mahasiswa menjadi lebih baik, memberikan kontribusi nyata bagi fakultas, dan belajar menjadi versi diri saya yang lebih berani dan matang.
Menjadi Wakil Presiden BEM FPK 2025 bukan hanya tentang jabatan atau prestasi, tetapi tentang perjalanan melawan ketakutan, belajar beradaptasi, dan membuktikan bahwa seorang introvert pun dapat berdiri di garis depan perubahan. Dari seorang mahasiswa yang hanya ingin pulang setelah kuliah, kini saya belajar untuk hadir, mendengar, dan memimpin demi visi bersama.
Penulis: Farrel Bhanu Mahardhika





