Close
Pendaftaran
FPK UNAIR
  • English
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Menteri KKP Mengajak Perguruan Tinggi Mengembangkan Teknologi dan Usaha di Bidang Perikanan

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Menteri KKP Mengajak Perguruan Tinggi Mengembangkan Teknologi dan Usaha di Bidang Perikanan

Bagikan
Menteri KKP dalam pertemuan membahas kolaborasi dengan Perguruan Tinggi
(Sumber: akun Twitter resmi @saktitrenggono)

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menerima audiensi Prof. Nizam selaku Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang ditemuinya di kantor KKP, Jakarta Pusat, pada hari Rabu (17/03/21). Audiensi ini dilakukan untuk membahas kolaborasi dan kontribusi dari perguruan tinggi demi memajukan sektor pendidikan dalam mengembangkan teknologi di bidang perikanan dan membangun ekosistem usaha di bidang perikanan seperti yang saat ini orientasinya lebih condong kepada start-up. Menteri Trenggono juga turut memamaparkan tiga program terobosan KKP hingga 2024.

Pada kesempatannya, Menteri Trenggono memaparkan contoh negara yang berhasil memanfaatkan teknologi budidaya yaitu Negara Norwegia, dimana saat ini Norwegia telah menjadi negara penghasil salmon terbesar di dunia. “Kalau kita bicara budidaya (perikanan), kita berarti bicara teknologi, keilmuan, yang pusatnya itu ada di perguruan tinggi,” tutur Menteri Trenggono.

Selanjutnya Menteri Trenggono menjelaskan bahwa sebenarnya banyak sekali komoditas perikanan di Indonesia yang berpotensi untuk menguasai pasar dunia. Komoditas unggulannya termasuk lobster, udang, dan rumput laut. Budidaya komoditas ini masih terus berlangsung. Namun sebagian besar pembudidaya masih memakai cara yang konvensional, sehingga kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan pun masih belum optimal. “Dengan teknologi, salah satunya bagaimana menghasilkan produksi udang yang level tinggi, yang panjang sekian, berat sekian. Begitu juga dengan lobster,” lanjut Pak Menteri.

Teknologi juga dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas subsektor pada perikanan tangkap. Salah satunya adalah teknologi yang digunakan untuk mengawasi kapal penangkap ikan yang sedang beroperasi di wilayah WPPNRI dan Regional Fisheries Management Organization (RFMO). Teknologi tersebut dapat mendeteksi pergerakan kapal secara real time, termasuk jenis dan jumlah ikan yang ditangkap. Sehingga pencegahan terhadap masalah penangkapan ikan di luar wilayah operasi dapat dapat dilakukan. Terdapat pula keuntungan lain dari penerapan teknologi, seperti penyelamatan pada kapal penangkap ikan yang tidak sengaja mengalami musibah di laut dapat segera ditangani. Hal ini juga sudah diterapkan pada sistem penerbangan selama ini.

Selain itu, Menteri Trenggono juga mengajak perguruan tinggi untuk turut bekerja sama di bidang riset dan bersama-sama membentuk adanya ekosistem usaha yang melibatkan para mahasiswa di bidang perikanan. Salah satu tujuannya untuk mengembangkan start-up di sektor perikanan yang dapat menarik minat generasi muda. “Sekarang orientasinya lebih ke startup, tapi jangan lupa begitu masuk digital-app, fundamental bisnis juga harus kuat. Kalau bisa ada satu kelompok mahasiswa yang berpikir soal fundamental bisnis, infrastruktur, dan kelompok lainnya di riset. Saya kira itu bisa kita tindaklanjuti,” tegas Menteri Terenggono.

Usulan yang diberikan oleh Menteri Trenggono disambut baik oleh Prof. Nizam, sama seperti Menteri Trenggono, Beliau juga mengharapkan terwujudnya implementasi dan berharap agar ke depannya nanti mahasiswa lulusan perikanan dapat bekerja sesuai bidangnya. Dengan meningkatnya pendidikan dan teknologi pada sektor perikanan akan meningkatkan produktivitas dan hasil perikanan dalam negeri akan semakin maju dan dapat bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Menteri KKP beserta Prof. Nizam dan jajarannya
(Sumber: akun Twitter resmi @saktitrenggono)

Sumber:

https://kkp.go.id/artikel/28214-menteri-trenggono-ajak-perguruan-tinggi-kembangkan-teknologi-dan-startup-perikanan. Diakses 19/03/2021

 

Penulis:  Shafa Aisyah Rahmalia (Akuakultur 2020)

Editor: Antrika Yuniarti (Akuakultur,2018)

5/5