fakultas
perikanan dan kelautan

Mengatasi Keterbatasan Produksi Benur Udang Windu

2 minutes read
1 Views count

Udang Windu (Penaeus monodon Fab.) merupakan komoditas ekspor non-migas yang memberikan kontribusi signifikan pada devisa negara. Meski budidaya udang windu di Indonesia berkembang pesat, keterbatasan produksi benur menjadi kendala utama yang dihadapi. Untuk mengatasi masalah ini, pembenihan udang windu dilakukan di berbagai skala, termasuk di Pusat Pembenihan Udang (PPU) di Desa Sukabumi, Probolinggo, Jawa Timur.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Tujuan dari Praktek Kerja Lapang (PKL) di PPU adalah untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam teknik pemeliharaan larva udang windu serta memahami hambatan yang ada. Metode kerja yang digunakan adalah deskriptif dengan pengambilan data melalui partisipasi aktif, observasi, wawancara, dan studi pustaka.

Proses pembenihan dimulai dengan mencuci bak dan peralatan menggunakan kaporit, kemudian dikeringkan. Induk udang didatangkan dari Situbondo dalam keadaan matang telur. Naupli ditebar dengan kepadatan 100-150 ekor per liter, dan air dalam bak diberi antibiotik untuk menjaga kualitasnya. Penyiponan dan sirkulasi air dilakukan secara rutin.

Pemeliharaan larva dilakukan dalam bak semen dengan media air laut berkadar garam 28-32 ppt dan suhu air antara 28-32°C. Pakan yang diberikan bervariasi sesuai stadia perkembangan larva, mulai dari pakan alami hingga buatan. Penggunaan erythromycin dan treflan membantu mencegah infeksi bakteri dan jamur.

Benur dipanen ketika mencapai ukuran PL 12 atau sesuai permintaan konsumen, lalu dikemas dalam kantong plastik berisi oksigen. Dengan teknik yang tepat, pembenihan udang windu dapat mengatasi keterbatasan produksi benur dan mendukung pertumbuhan industri budidaya udang di Indonesia.

Rated 5 out of 5