Para ahli di Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok, Jawa Barat, telah mengungkapkan teknik terbaru dalam pemeliharaan larva ikan tiger catfish (Pseudoplatystoma fasciatum). Dengan suhu air yang terjaga optimal antara 26,7 hingga 29,8°C dan tingkat oksigen terlarut mencapai 4,98 hingga 6,82 ppm, hasil budidaya mencatat laju pertambahan panjang rata-rata larva sebesar 2,12 mm per hari. Tingkat kelangsungan hidup larva yang mencapai 85,11% juga menunjukkan keberhasilan dalam praktik ini.
Menurut Dr. Budi Santoso, kepala peneliti di lokasi, kunci keberhasilan terletak pada persiapan wadah pemeliharaan yang optimal dan pemantauan ketat terhadap kualitas air, termasuk pH yang dijaga antara 6 hingga 7,5. “Ini bukan hanya tentang menghasilkan benih ikan berkualitas, tetapi juga memastikan bahwa benih yang dihasilkan siap bersaing baik di pasar ekspor maupun domestik,” kata Dr. Budi.
Para peternak lokal telah melaporkan bahwa ukuran benih yang siap jual, mulai dari 1 hingga 1,5 inci, menarik minat pasar ekspor dengan harga antara Rp. 550,00 hingga Rp. 600,00 per ekor. Sementara itu, benih berukuran 2,5 hingga 3,5 inci, dijual dengan harga yang lebih tinggi, yakni antara Rp. 2.500,00 hingga Rp. 4.000,00 per ekor untuk pasar ikan hias dalam negeri.
Budidaya ikan tiger catfish tidak hanya memberikan peluang ekonomi yang menjanjikan bagi peternak lokal, tetapi juga menghadirkan alternatif menarik bagi pecinta hobi ikan hias di Indonesia. Dengan teknik-teknik baru ini, diharapkan industri budidaya ikan hias air tawar semakin berkembang dan mampu bersaing di pasar global.



