FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

INCOBIFS 2026 - Rahmi Nurdiani, S.Pi., M.App.Sc., Ph.D

Dr. Rahmi Nurdiani: Fish Protein Hydrolysates, Masa Depan Pangan dari Hasil Samping Perikanan

3 minutes read
57 Views count

Surabaya – Hasil samping industri pengolahan perikanan masih menyimpan potensi besar. Kepala, tulang, kulit, sisik, dan jeroan mengandung protein serta komponen bioaktif yang bernilai. Karena itu, Dr. Rahmi Nurdiani, S.Pi., M.App.Sc., Ph.D. mengulas potensi tersebut dalam International Conference on Biotechnology and Food Sciences (INCOBIFS) 2026, Kamis (3/9/2026).

Sebagai invited speaker, Dr. Rahmi membawakan materi bertajuk “Unlocking the Potential of Fish Protein Hydrolysates: From Seafood Processing Waste to Next Generation Functional Foods and Nutraceuticals.” Melalui materi tersebut, ia mengajak peserta melihat hasil samping perikanan dari perspektif berbeda. Biomassa tersebut tidak hanya menjadi sisa produksi, tetapi juga dapat membuka peluang inovasi pangan masa depan.

“The future of seafood innovation lies in seeing waste not as the end of a production process, but as the beginning of new functional, nutritional, and therapeutic possibilities.”

Mengubah Hasil Samping Menjadi Produk Bernilai

Industri pengolahan perikanan sering berfokus pada daging dan fillet. Namun, bagian lain dari ikan juga menyimpan sumber daya yang berpotensi tinggi. Oleh karena itu, bioteknologi dapat membantu industri mengolah biomassa tersebut menjadi produk bernilai tambah.

Salah satu pendekatan yang Dr. Rahmi soroti adalah fish protein hydrolysates atau FPH. Hidrolisis enzimatis memecah protein kompleks menjadi peptida dan asam amino yang lebih sederhana. Dengan demikian, proses tersebut dapat menghasilkan komponen dengan karakteristik fungsional tertentu.

Setiap bahan baku membutuhkan kondisi pengolahan yang berbeda. Sebab, jenis enzim, pH, waktu, dan konsentrasi enzim dapat memengaruhi karakteristik produk akhir.

Potensi Fish Protein Hydrolysates untuk Pangan Fungsional

Selanjutnya, Dr. Rahmi memaparkan sejumlah penelitian tentang bahan baku FPH. Penelitian tersebut memanfaatkan kepala ikan kembung, hasil samping ikan patin, hingga ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis).

FPH tidak hanya menyediakan sumber protein. Selain itu, produk ini memiliki sifat kelarutan, pengikatan air, pengikatan minyak, dan emulsifikasi. Karakteristik tersebut kemudian membuka peluang penggunaannya dalam berbagai produk pangan.

Salah satu penelitian mengembangkan yoghurt probiotik yang diperkaya protein hidrolisat ikan. Melalui inovasi tersebut, pengembang produk dapat meningkatkan nilai gizi pangan yang telah dikenal masyarakat. Pendekatan ini juga mendukung SDGs 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan sumber pangan yang beragam dan bernilai gizi.

Peptida Bioaktif dan Masa Depan Riset

INCOBIFS 2026 - Rahmi Nurdiani, S.Pi., M.App.Sc., Ph.D
INCOBIFS 2026 – Rahmi Nurdiani, S.Pi., M.App.Sc., Ph.D

Selain pengembangan pangan, Dr. Rahmi juga membahas potensi peptida bioaktif dari FPH. Peneliti dapat mengeksplorasi fragmen protein tersebut untuk menemukan aktivitas biologis tertentu.

Ke depan, kecerdasan buatan dan basis data peptida dapat mendukung proses tersebut. Teknologi ini membantu peneliti memprediksi kandidat peptida sebelum melakukan pengujian eksperimental. Dengan demikian, proses penemuan kandidat potensial dapat berlangsung lebih terarah.

Integrated Blue Biorefinery untuk Perikanan Berkelanjutan

Pada akhir sesi, Dr. Rahmi memperkenalkan konsep Integrated Blue Biorefinery. Konsep ini mendorong pemanfaatan seluruh komponen biomassa perikanan secara terintegrasi.

Protein dapat menghasilkan FPH dan peptida fungsional. Sementara itu, lipid dapat menjadi sumber minyak laut. Mineral dari tulang juga menawarkan peluang pemanfaatan lainnya.

Melalui pendekatan tersebut, industri dapat memanfaatkan biomassa secara lebih menyeluruh. Konsep ini pun mendukung SDGs 14 (Life Below Water) melalui pemanfaatan sumber daya perikanan yang lebih optimal. Selain itu, INCOBIFS 2026 memperkuat SDGs 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antarpeneliti.

Pada akhirnya, Dr. Rahmi menunjukkan bahwa hasil samping perikanan bukan sekadar limbah. Sebaliknya, biomassa tersebut dapat membuka jalan bagi inovasi pangan fungsional dan nutraseutikal di masa depan.

 

Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr

Editor : TPA

Rated 5 out of 5