Surabaya – Proses pascapanen tidak hanya menentukan kualitas fisik bahan alami. Proses ini juga dapat mengubah senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya. Tahapan seperti pengeringan dan ekstraksi bahkan memengaruhi karakteristik kimia serta aktivitas biologis bahan.
Prof. Albert Linton Charles, Ph.D. membahas topik tersebut dalam International Conference on Biotechnology and Food Sciences (INCOBIFS) 2026. Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan konferensi tersebut pada Kamis (3/9/2026).
Prof. Charles hadir sebagai salah satu keynote speaker. Akademisi dari Department of Tropical Agriculture and International Cooperation, National Pingtung University of Science and Technology (NPUST), Taiwan, itu membawakan materi bertajuk “From Post-Harvest Processing to Phytochemical Delivery: Mechanistic Insights into Drying and Extraction of Bioactive Constituents in Mangrove and Medicinal Plant Systems.”
Memahami Perjalanan Senyawa Bioaktif
Prof. Charles menjelaskan bahwa tumbuhan mangrove dan tanaman obat tropis menyimpan beragam senyawa bioaktif. Senyawa tersebut berpotensi mendukung pengembangan pangan fungsional, produk kesehatan, dan inovasi bioteknologi.
Namun, kandungan bioaktif dalam tanaman dapat berubah setelah bahan melewati proses pengolahan. Bahan alami melalui berbagai tahapan, mulai dari pemanenan dan penyimpanan hingga pengeringan dan ekstraksi.
Setiap tahap dapat mengubah struktur, konsentrasi, stabilitas, serta ketersediaan senyawa fitokimia. Karena itu, peneliti perlu memahami perubahan tersebut ketika mengembangkan produk berbasis bahan alami.
Pengeringan dan Ekstraksi sebagai Tahap Krusial
Prof. Charles memberikan perhatian khusus pada proses pengeringan. Proses ini menurunkan kadar air dan membantu memperpanjang umur simpan bahan. Namun, suhu, durasi, dan metode pengeringan juga dapat mengubah stabilitas senyawa fitokimia.

Beberapa senyawa dapat mengalami degradasi akibat panas. Sebaliknya, kondisi tertentu dapat membantu melepaskan senyawa dari matriks tanaman. Oleh sebab itu, peneliti perlu memilih metode pengeringan berdasarkan karakteristik bahan dan senyawa target.
Ekstraksi kemudian menjadi tahap penting berikutnya. Proses ini membantu mengambil komponen bioaktif dari jaringan tanaman. Jenis pelarut, kondisi proses, dan sifat kimia senyawa menentukan hasil ekstraksi.
Prof. Charles mengajak peserta untuk melihat kembali tujuan utama pengembangan proses tersebut.
“Is it to engineer post-harvest pathways that deliver the right phytochemical profile for the right biological response?”
Pertanyaan tersebut menekankan bahwa peneliti tidak hanya perlu mengejar jumlah ekstrak. Mereka juga perlu merancang proses yang menghasilkan profil fitokimia sesuai dengan tujuan biologisnya.
Mangrove sebagai Potensi Bahan Alam Tropis
Prof. Charles turut menyoroti potensi mangrove dalam penelitian fitokimia. Tumbuhan ini hidup di lingkungan pesisir yang dinamis dan menghadapi berbagai tekanan lingkungan. Kondisi tersebut mendorong mangrove menghasilkan beragam metabolit sekunder.
Para peneliti dapat mengeksplorasi senyawa tersebut untuk pangan, farmasi, dan bioteknologi. Namun, pemanfaatannya harus tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem pesisir.
Upaya tersebut sejalan dengan SDGs 14 (Life Below Water). Pengembangan ilmu pengetahuan dapat membantu manusia memahami potensi biodiversitas pesisir tanpa mengabaikan pentingnya kelestarian ekosistem.
Menghubungkan Kimia dan Biologi
Pada akhir presentasinya, Prof. Charles menekankan pentingnya menghubungkan ilmu kimia dan biologi. Ia mendorong peneliti untuk tidak hanya mengukur hasil dari satu parameter biologis.
“The future of bioactive research lies in connecting chemistry and biology, revealing how processing reshapes entire response networks rather than measuring isolated assay endpoints.”
Menurutnya, penelitian masa depan perlu melihat perubahan selama pengolahan secara lebih menyeluruh. Pendekatan lintas disiplin dapat membantu peneliti memahami hubungan antara profil fitokimia dan respons biologis.
INCOBIFS 2026 juga membuka ruang pertukaran pengetahuan antarpeneliti dari berbagai negara. Kolaborasi tersebut mencerminkan semangat SDGs 17 (Partnerships for the Goals) dalam memperkuat kemitraan internasional di bidang riset dan inovasi.
Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor : TPA





