Faculty
of Fisheries and Marine

Pemilihan BEM FPK UNAIR 2021 di Masa Pandemi Dilaksanakan Secara Daring

Organisasi merupakan suatu wadah pengembangan diri yang memiliki segudang manfaat, salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga yang baru-baru ini melaksanakan pemilihan staff BEM FPK UNAIR 2021 secara daring karena dalam kondisi pandemi sekaligus menjadi tantangan baru bagi mahasiswa. Sebelumnya, pemilihan Ketua dan Wakil Ketua BEM FPK UNAIR 2021 telah dilaksanakan secara daring pada 18 Desember 2020.

BEM FPK UNAIR 2021 bernama Kabinet Lokatara. Lokatara berasal dari Bahasa Sansekerta yang memiliki arti “luar biasa”. “Harapannya semoga BEM FPK UNAIR bisa menjadi wadah yang dapat mencetak pribadi yang luar biasa dan bermanfaat bagi sekitar”, ujar Ardhy Firmansyah selaku Ketua BEM FPK UNAIR 2021. Pemilihan Staff BEM FPK UNAIR 2021 dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 17 sampai 20 Februari 2021. Mekanisme  pemilihan dilakukan dengan dua tahap wawancara. Tahap satu adalah wawancara bersama Kepala Departemen sesuai pilihan mahasiswa dan tahap dua adalah wawancara bersama Ketua atau Wakil Ketua BEM FPK 2021.

Pemilihan staff secara daring tidak jauh berbeda dengan mekanisme yang dilakukan secara luring. Perbedaanya terletak pada persyaratan administrasi yang sebelumnya tidak menggunakan motivation letter. Hal ini diakui oleh Qorina Shinta selaku Kepala Departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa. “Sebenarnya tidak berbeda jauh untuk sistemnya, di bagian administrasi diharuskan membuat motivation letter dan CV. Sedangkan, saat offline (luring) hanya CV dan pas foto”, ungkapnya. Perbedaan menonjol lainnya adalah teknis pengumpulan berkas yang dikirimkan melalui email. Selain itu, jadwal wawancara pun telah diatur secara efektif dan efisien. Wawancara dilaksanakan melalui media Zoom.

Pelaksanaan pemilihan staff BEM FPK UNAIR 2021 tentunya sempat mengalami beberapa kendala. Menurut Alifa Hafiizha selaku Wakil Ketua BEM FPK UNAIR 2021, kendala yang dirasakan dari pelaksanaan secara daring ialah kendala teknis, seperti sinyal dan jaringan. Walaupun begitu, pelaksanaan secara daring juga memiliki kelebihan, yaitu sangat efisien secara waktu karena sudah ada borang penilaian yang disepakati bersama untuk memudahkan proses penyaringan. Kendati demikian, antusiasme dari para mahasiswa cukup tinggi dengan dibuktikannya jumlah pendaftar calon staff yang mencapai ratusan. Hal ini terjadi diluar ekspektasi para Badan Pengurus Inti dan Kepala Departemen. “Saya pikir kondisi pandemi seperti ini cukup menurunkan semangat teman-teman mahasiswa dalam berorganisasi. Namun, ternyata masih besar semangat dan antusias teman-teman mahasiswa untuk mengabdi dan berkontribusi untuk fakultas tercinta”, tutur Ardhy.

Tentu BEM FPK UNAIR 2021 perlu memutar otak untuk membuat strategi baru dalam beradaptasi di masa pandemi ini. “Adaptasi yang BEM akan lakukan dengan mendigitalisasi program kerja dimana pelaksanaan kegiatan akan menggunakan platform digital”, ungkap Alifa. Hal ini pun diperjelas oleh Ardhy yang menyetujui bahwa perencanaan pelaksanaan kegiatan akan dilakukan secara daring mengingat pandemi yang tak kunjung usai. “Kegiatan akan dimaksimalkan secara daring  dengan tidak mengurangi nilai esensi dan tujuan dari kegiatan tersebut”, pungkasnya. Pengumuman staff terpilih dilakukan pada 23 Februari 2021. Staff yang terpilih merupakan harapan bagi BEM FPK UNAIR 2021 sekaligus sebagai jembatan penghubung dan sarana mahasiswa untuk menyalurkan aspirasi. “Harapan besar bagi BEM FPK UNAIR 2021 dapat menjadi wadah yang tepat dan membawa kebermanfaatan bagi mahasiswa FPK”, tegas Ardhy. Tak terkecuali Alifa, yang memaparkan harapan bagi BEM FPK UNAIR 2021 kedepannya. “Terlaksananya setiap program kerja yang dapat mewadahi mahasiswa FPK dengan output dari kegiatan tersebut dapat dikembangkan oleh para peserta yang nantinya akan menjadi ide berkelanjutan, mampu memperkuat relasi dan kolaborasi dengan baik dengan pihak internal maupun eksternal serta BEM nantinya mampu membangun lingkungan organisasi yang adaptif dan berkelanjutan”, ujar Alifa.

 

Penulis: Shafa Aisyah Rahmalia (Akuakultur, 2020)

Editor: Denya Safa Fitri Syahira (Akuakultur, 2020)

Rated 5 out of 5