Close
Pendaftaran
FPK UNAIR

DAMPAK COVID-19 PADA INDUSTRI PERIKANAN DOMESTIK INDONESIA

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

DAMPAK COVID-19 PADA INDUSTRI PERIKANAN DOMESTIK INDONESIA

DAMPAK COVID-19 PADA INDUSTRI PERIKANAN DOMESTIK INDONESIA

Covid-19 merupakan jenis virus yang mewabah pada hampir seluruh negara di dunia. Penyebaran yang begitu cepat mendorong WHO (World Health Organization) sebagai badan kesehatan dunia menyatakan bahwa wabah Covid-19 merupakan pandemic global. Covid-19 yang disebut sebagai Virus Corona pertama kali muncul di Wuhan, China pada pertengahan November 2019. Tidak lama virus tersebut sudah menyebar ke seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Kasus pertama terjadi pada bulan Maret 2019, hingga saat ini (07 Mei 2020) jumlah kasus virus corona sudah mencapai 12.776 kasus yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, sehingga pemerintah harus menerapkan sistem WFH (Work From Home) untuk menghindari atau menekan penyebaran virus yang semakin meluas. Tentu saja kondisi seperti akan memperngaruhi perekonomian segala aspek, termasuk aspek perikanan. Produk perikanan berkontribusi dalam pemenuhan @pangan @seafood dan protein hewani dan menjadi bagian penting dalam program pengembanagn @lifebelowwater di Indonesia secara berkalanjutan.

Pergerakan bisnis perikanan di Indonesia sebagain besar meliputi penangkapan, budidaya dan pengolahan hasil perikanan. Dampak dari sistem WFH yang diterapkan guna menghindari penyebaran Covid-19 ini,sedikit banyak mengena pada pelaku industri perikanan. Sebagaian besar media online memberitakan terjadinya penurunan harga ikan yang disebabkan oleh menurunnya tingkat permintaan para konsumen mulai skala rumah tangga sampai dengan para eksportir. Akibatnya di beberapa wilayah para nelayan sudah menghentikan aktivitas penangkapan karena khawatir hasil produksinya tidak terserap oleh pasar.Aktivitas pasar ikan di sebagian wilayah dalam sebulan terakhir mulai menurun karena sepinya pembeli sehingga banyak ikan menurun di pasar.

Berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2020 menyatakan bahwa penurunan harga ikan sudah terjadi selama dua bulan terakhir. Akibatnya Nilai Tukar sektor Perikanan terus mengalami penurunan. BPS menyatakan bahwa pada bulan Maret 2020 terkihat Nilai Tukar Perikanan (NTP) turun sebesar 0,35% dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 100,65 pada bulan Februari 2020, menjadi 100,30 pada bulan Maret 2020. BPS menjelaskan bahwa penurunan nilai tersebut karena indeks yang diterima nelayan dan pembudidaya ikan turun sebesar 0,24% sedangkan indeks yang dibayar (Ib) nelayan dan pembudidaya ikan naik sebesar 0,11%. Penurunan Indeks tersebut disebabkan karena turunnya harga berbagai komoditas di perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Dengan adanya hal ini maka KKP (Kementrian Kelautan Perikanan) mengalokasikan anggaran untuk memberikan insentif pada nelayan dan pelaku usaha perikanan yang terdampak Covid-19 melalui kerjasama dengan asosiasi asosiasi terkait untuk mendapatkan data yang akurat. Selain itu KKP juga bekerjasama dengan BUMN bidang perikanan (Perindo dan Perinus) serta sektor swasta untuk menciptakan pasar ikan digital, agar jual beli ikan di dalam negeri tetap terjaga. Digitalisasi pasar ikan sangat penting karena pembatasan berkumpul berupa penerapan social-physical distancing di tengah pandemi Covid-19.

Penulis
Daruti Dinda Nindarwi
Departemen MKI-BP
Email: daruti-dinda-n@fpk.unair.ac.id

Loading

5/5

FPK NEWS

BAGIKAN