Saat ini penelitian mengenai pengelolaan perikanan cenderung masih berbasis single species. Hal ini masih dianggap belum lengkap dalam pengelolaan perikanan mengingat bahwa adanya keterkaitan antara satu spesies dengan spesies lainnnya maupun dengan lingkungannya di dalam suatu ekosistem perairan. Oleh karena itu, pengelolaan perikanan berbasis ekosistem lebih menjadi perhatian untuk melihat kondisi status perikanan dan kesehatan ekosistem perairan. Salah satu cara yang dapat digunakan sebagai upaya pengelolaan perikanan berbasis ekosistem adalah melalui pendekatan tingkat trofik (food chain approach), dimana melalui pendekatan ini diharapkan dapat menganalisis fungsi dan kondisi suatu ekosistem mulai dari produsen sampai top predator dan menganalisis bagaimana hubungan antara biota dengan lingkungannya.
Salah satu tools yang dapat digunakan untuk melihat kondisi tingkat trofik di dalam suatu ekosistem perairan adalah dengan menggunakan pendekatan “Ecopath Modelling”. Saat ini, tools tersebut terus dikembangkan di dunia untuk bisa menganalisis kondisi ekosistem perairan. Melalui aplikasi modelling, diharapkan dapat menganalisis suatu kondisi perikanan di dalam ekosistem dengan cepat walaupun dengan data yang terbatas. Untuk di Indonesia sendiri, penelitian mengenai pengelolaan perikanan menggunakan ecopath modelling masih jarang di lakukan. Penelitian yang pernah dilakukan diantaranya oleh Kartamihardja (2007) di Waduk Cirata, selanjutnya oleh Indriyati (2005) di Teluk Ekas, dan yang terakhir oleh Dewi et al. (2018) di pesisir Tangerang, Banten.
Penelitian yang dilakukan oleh Dewi et al. (2018) di pesisir Tangerang menghasilkan informasi mengenai kondisi ekosistem perairan tersebut dimana secara umum kondisi perikanan di pesisir Tangerang sudah mengalami penurunan stok. Biota-biota yang tergolong predator tingkat tinggi dalam tingkat trofik memiliki biomassa yang sangat sedikit. Perairan tersebut lebih didominasi oleh biota yang memiliki tingkat trofik rendah. Hal ini mengindikasikan adanya fenomena fishing down the food web di dalam suatu ekosistem. Fenomena tersebut dipengaruhi salah satunya oleh tingginya aktivitas penangkapan serta penurunan kualitas lingkungan, dimana kondisi perairan pesisir Tangerang sudah mengalami pencemaran. Melalui ecopath model ini, juga didapatkan informasi mengenai tingkat diversitas biota yang tergolong rendah. Dari hasil penelitian tersebut, diharapkan menjadi bahan pertimbangan pengelolaan perikanan di pesisir Tangerang oleh para stakeholders.
Selain dapat digunakan untuk menganalisis kondisi perikanan melalui pendekatan tingkat trofik, tools ecopath ini juga dapat digunakan untuk memprediksi kondisi suatu stok perikanan untuk waktu kedepannya (time-dynamic). Ecopath juga bisa digunakan untuk melihat tingkat akumulasi bahan pencemar di dalam tingkat trofik suatu ekosistem perairan (biomagnifikasi). Selain itu masih banyak lagi informasi yang bisa didapatkan melalui pendekatan pemodelan ini yang dapat digunakan sebagai dasar informasi pengelolaan perikanan dan ekosistemnya. Untuk di Indonesia sendiri, penelitian dengan menggunakan pendekatan ecopath modelling masih perlu dikembangkan dan diaplikasikan lagi di perairan lainnya.
Referensi :
Dewi, NN. Kamal, MM., Wardiatno, Y. 2018. The exploration of trophic structure modeling using mass balance Ecopath model of Tangerang coastal waters. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science 137 (1), 012044.
Penulis:
Nina Nurmalia Dewi, S.Pi.,M.Si
Departemen MKI-BP
Email: ninanurmaliadewi@fpk.unair.ac.id











